Serangan Cepat Prancis Hadapi Penguasaan Bola Spanyol
📅 Senin, 13 Jul 2026, 06:58 WIB | Oleh: Benny Mudesta PutraDALLAS – Semifinal Piala Dunia 2026 menghadirkan partai yang layak disebut sebagai final sebelum waktunya. Dua tim raksasa Eropa, Prancis dan Spanyol, akan berhadapan di Stadion Dallas, Rabu (15/7) dini hari WIB, dalam laga yang mempertemukan kekuatan serangan eksplosif Les Bleus dengan permainan kolektif penuh kontrol milik La Roja.
Taruhannya sangat besar, jika menang, berarti Prancis mencapai final Piala Dunia untuk ketiga kali secara beruntun. Ini pernah dicapai Jerman Barat pada tahun 1982, 1986, dan 1990. Sebaliknya, Spanyol bertekad mengakhiri penantian panjang menuju partai puncak sejak terakhir mengangkat trofi dunia di Afrika Selatan pada tahun 2010.
Les Bleus melaju ke empat besar dengan catatan yang nyaris sempurna. Tim asuhan Didier Deschamps menyapu bersih tiga pertandingan fase grup melawan Senegal, Irak, dan Norwegia sebelum menyingkirkan Swedia pada babak 32 besar. Perlawanan Paraguay di babak 16 besar dan Maroko di perempat final pun mampu diatasi dengan meyakinkan.
Di balik laju impresif itu, Kylian Mbappe kembali menjadi pusat perhatian. Penyerang Real Madrid tersebut tampil luar biasa dengan torehan delapan gol sepanjang turnamen. Catatan itu membuat koleksi golnya di Piala Dunia mencapai 20 gol hanya dari 20 pertandingan, statistik yang semakin mengukuhkan namanya sebagai salah satu penyerang paling produktif dalam sejarah turnamen.
Meski demikian, kekuatan Prancis tidak hanya bertumpu kepada Mbappe. Didier Deschamps memiliki lini depan yang dipenuhi pemain cepat dan kreatif seperti Ousmane Dembele, Michael Olise, Desire Doue, serta Bradley Barcola. Sementara itu, pertahanan yang dikawal Dayot Upamecano dan William Saliba juga tampil sangat solid. Hingga babak perempat final, Prancis baru kebobolan dua gol dan belum sekali pun kebobolan sepanjang fase gugur.
Sebaiknya Anda baca juga:
Keseimbangan permainan Les Bleus semakin terasa berkat peran Adrien Rabiot dan Manu Kone di sektor tengah, yang menjadi penghubung antara lini pertahanan dan serangan. Jika Prancis mengandalkan kecepatan transisi, Spanyol datang dengan filosofi yang berbeda. Tim besutan Luis de la Fuente kembali menampilkan permainan berbasis penguasaan bola yang menjadi ciri khas mereka dalam satu dekade terakhir.
Sempat ditahan tanpa gol oleh Tanjung Verde pada laga pembuka, La Roja bangkit dengan menundukkan Arab Saudi dan Uruguay untuk menjadi juara Grup H. Austria disingkirkan di babak 32 besar. Sedangkan Portugal dan Belgia dipulangkan berkat gol-gol krusial Mikel Merino yang beberapa kali tampil sebagai supersub.
Lini tengah menjadi senjata utama Spanyol. Trio Rodri, Pedri, dan Dani Olmo mampu mengontrol tempo pertandingan sekaligus mendikte permainan lawan. Di belakang mereka, Unai Simon baru sekali memungut bola dari gawangnya sepanjang turnamen. Aymeric Laporte dan Pau Cubarsi tampil tenang di jantung pertahanan. Marc Cucurella dan Pedro Porro aktif membantu serangan. Di depan, kecepatan Lamine Yamal, Nico Williams, dan ketajaman Mikel Oyarzabal menjadi sumber ancaman yang sulit diprediksi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sering Menang
Kepercayaan diri Spanyol semakin tinggi karena mereka selalu menang dalam dua pertemuan terakhir melawan Prancis. La Roja menyingkirkan Les Bleus 2-1 pada semifinal Piala Eropa 2024 sebelum kembali menang dramatis 5-4 pada semifinal UEFA Nations League 2025.
Catatan itu sekaligus mempertegas kehebatan Luis de la Fuente setiap kali menghadapi Prancis di babak semifinal. Sejak menangani tim nasional kelompok umur pada tahun 2013 hingga kini membesut tim senior, pelatih berusia 64 tahun tersebut sudah lima kali berduel melawan Prancis di empat besar berbagai turnamen dengan hasil empat kemenangan dan hanya satu kekalahan.
Satu-satunya kegagalan terjadi pada semifinal Kejuaraan Eropa U-19 tahun 2013. Setelah itu, De la Fuente selalu menemukan cara menaklukkan rivalnya tersebut, mulai dari level U-19, U-21, hingga tim nasional senior.
Meski demikian, sejarah pertemuan di Piala Dunia justru memihak Prancis. Dari total 17 penampilan masing-masing di putaran final, kedua negara baru sekali bertemu, yakni pada babak 16 besar Piala Dunia 2006 di Jerman. Saat itu Prancis bangkit dari ketertinggalan untuk menang 3-1 melalui gol Franck Ribery, Patrick Vieira, dan Zinedine Zidane setelah lebih dulu tertinggal akibat penalti David Villa.
Mbappe menegaskan timnya belum puas hanya mencapai semifinal. “Satu-satunya cara untuk merasa tenang adalah dengan menang,” ujar kapten Prancis itu.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!