3.757 Bekantan di Kalsel Terancam Karhutla, BKSDA Dorong Perluasan Areal Preservasi.
📅 Jumat, 18 Sep 2026, 20:52 WIB | Oleh: Yebdi TrismarBalai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan mendorong perluasan Areal Preservasi (AP) untuk memperkuat perlindungan habitat 3.757 ekor bekantan yang tersebar di 11 kabupaten/kota, khususnya dari ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Kami berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan para pihak terkait mendorong skema AP ini untuk memperluas ruang konservasi guna menjaga kehidupan liar bagi satwa liar khususnya bekantan,” kata Kepala BKSDA Kalsel Agus Ngurah Krisna yang dikonfirmasi di Banjarmasin, Jumat.
BKSDA mendorong skema tersebut setelah Tim Rescue Satwa BKSDA Kalsel menemukan 12 individu bekantan mati akibat kebakaran lahan di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, pada Minggu (13/9).
Selain bekantan, tim juga menemukan satu individu ular piton dan satu individu ular king kobra yang mati akibat kebakaran.
“Habitat satwa di lokasi karhutla berada di Areal Penggunaan Lain (APL) atau di luar kawasan hutan, terdiri atas tanah desa sekitar delapan hektare dan tanah milik warga sekitar 1,3 hektare dengan tutupan vegetasi berupa semak, galam, renghas, bungur, dan halaban. Kedua areal habitat tersebut terfragmentasi oleh jalan aspal,” katanya.
Dari total 3.757 individu bekantan yang tersebar di 11 kabupaten/kota di Kalsel, baik di dalam maupun di luar kawasan konservasi, BKSDA Kalsel menyebut sebanyak 1.281 individu berada di 12 kawasan konservasi.
Habitat bekantan di kawasan konservasi tersebut berada pada tipe ekosistem mangrove dan dataran rendah, sementara populasi di luar kawasan konservasi menempati wilayah yang membutuhkan dukungan perlindungan habitat melalui skema konservasi yang sesuai.
Sebagai salah satu percontohan, Agus menyebut saat ini BKSDA Kalsel bersama Pemerintah Kabupaten Tanah Laut tengah mengusulkan areal preservasi habitat bekantan seluas 500 hektare di Desa Panjaratan, Kabupaten Tanah Laut.
Berdasarkan pemantauan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Panjaratan terakhir kali pada 2022, jumlah habitat bekantan di kawasan itu mencapai sekitar 207 ekor.
Agus mengungkapkan ancaman terhadap habitat tersebut berlangsung di tengah tingginya kejadian karhutla di Kalimantan Selatan.
Sejak Januari hingga 14 September 2026, BPBD Kalsel mencatat 3.220 kejadian kebakaran hutan dan lahan dengan perkiraan luasan terbakar mencapai 21.414,43 hektare.
Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang menjadi lokasi kematian 12 ekor bekantan akibat karhutla, menjadi salah satu dari tiga kabupaten/kota dengan luasan terbakar terbesar, yakni mencapai 3.786,71 hektare, sehingga kasus kematian satwa di Desa Balimau di kabupaten itu memperlihatkan dampak langsung kebakaran terhadap kehidupan liar di luar kawasan hutan.
BKSDA Kalsel menindaklanjuti kejadian tersebut dengan memastikan jenis dan jumlah satwa yang mati, melakukan penguburan, serta mengecek keberadaan satwa lain di lokasi untuk memastikan tidak terdapat satwa yang sakit dan membutuhkan evakuasi.
Tim juga mengkaji kelayakan habitat di lokasi kejadian dan menyiapkan tindakan translokasi apabila diperlukan, disertai sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat sebagai bagian dari penanganan satwa terdampak serta pencegahan ancaman terhadap habitat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!