Transisi Energi Butuh Reformasi Subsidi
📅 Kamis, 23 Jul 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiSubsidi energi selama ini masih menghadapi persoalan mendasar karena sebagian besar justru dinikmati kelompok masyarakat mampu. JAKARTA – Akademisi menilai percepatan transisi energi di Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan pengembangan teknologi, tetapi juga membutuhkan perubahan kebijakan, reformasi subsidi, serta kolaborasi lintas sektor agar target ketahanan energi dan pembangunan berkelanjutan dapat tercapai.
Rektor Institut Teknologi PLN (ITPLN) Prof. Iwa Garniwa mengatakan transisi energi harus dipandang sebagai perubahan cara berpikir dalam membangun masa depan Indonesia yang lebih berkelanjutan, bukan sekadar mengganti penggunaan bahan bakar fosil dengan energi listrik.
"Ancaman krisis iklim dan pentingnya menjaga ketahanan energi menjadi sesuatu yang harus didukung oleh seluruh pemangku kepentingan," kata Iwa saat peluncuran buku "Bumi yang Terjaga: Transisi Energi untuk Indonesia yang Berkelanjutan", sebagaimana diberitakan Antara di Jakarta, Rabu (22/7).
Menurutnya, transisi energi bukan hanya persoalan teknologi karena teknologi hanyalah alat. Yang lebih penting adalah membangun komitmen bersama untuk menjaga bumi melalui penggunaan energi yang lebih bersih.
"Oleh karena itu, percepatan transisi menuju energi yang lebih bersih membutuhkan kolaborasi dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, dan masyarakat," ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Iwa menjelaskan buku yang diluncurkannya bertujuan memperluas pemahaman masyarakat mengenai transisi energi sekaligus membuka ruang dialog antarpemangku kepentingan. Buku tersebut mengulas berbagai aspek mulai dari ketahanan energi, energi baru terbarukan (EBT), kebijakan, teknologi, investasi, hingga pentingnya kolaborasi lintas sektor.
"Buku tersebut lahir dari refleksi mendalam terhadap tantangan ketahanan energi nasional sekaligus meningkatnya ancaman perubahan iklim yang kini menjadi perhatian dunia," katanya.
Senada dengan itu, Managing Director Listrik Indonesia Irwadhi Marzuki menilai peningkatan literasi publik menjadi bagian penting dalam mendukung agenda transisi energi nasional.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurutnya, dukungan terhadap transisi energi tidak hanya diwujudkan melalui investasi dan pengembangan teknologi, tetapi juga dengan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai manfaat, tantangan, dan urgensi penggunaan energi bersih.
Keadilan Sosial
Di sisi lain, Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menilai percepatan transisi energi harus berjalan seiring dengan reformasi subsidi energi agar kebijakan tersebut tidak membebani keuangan negara.
Menurut Eddy, reformasi subsidi dan transisi energi merupakan dua agenda berbeda, tetapi saling melengkapi. Reformasi subsidi bertujuan menciptakan keadilan sosial melalui penyaluran bantuan yang lebih tepat sasaran, sedangkan transisi energi menjadi strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus menekan emisi karbon.
"Di sinilah pentingnya melihat reformasi subsidi bukan soal mengurangi perlindungan, tetapi mengubah cara negara melindungi rakyatnya, sehingga kelompok rentan benar-benar mendapatkan haknya secara adil dan efisien," ujar Eddy.
Ia mengatakan subsidi energi selama ini masih menghadapi persoalan mendasar karena sebagian besar justru dinikmati kelompok masyarakat mampu. Karena itu, pemerintah disarankan mengubah skema subsidi dari berbasis komoditas menjadi bantuan langsung kepada masyarakat berdasarkan data penerima yang akurat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!