KOWANI Ajak Perempuan Lestarikan Budaya Melalui Parade Kebaya
📅 Senin, 20 Jul 2026, 14:47 WIB | Oleh: Ilham SudrajatPALEMBANG – Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (KOWANI), Nannie Hadi Tjahjanto, mengajak perempuan melestarikan kebaya sebagai identitas budaya bangsa Indonesia. Menurut Nannie kebaya bukan sekadar busana tradisional, melainkan simbol persatuan, perjuangan, dan jati diri perempuan Indonesia.
Hal tersebut disampaikannya saat Parade Perempuan Berkebaya Berkain Songket memperingati Hari Kebaya Nasional ketiga Tahun 2026. Kegiatan tersebut sekaligus memecahkan Rekor MURI berlangsung di kawasan Car Free Day (CFD) Palembang, Minggu (19/7).
Nannie menegaskan Hari Kebaya Nasional bukan sekadar perayaan seremonial maupun peragaan busana. Ia mengatakan, momentum tersebut menjadi penguat identitas nasional sekaligus pelestarian budaya Indonesia.
"Kebaya bukan hanya busana. Kebaya adalah simbol jati diri, kesantunan, keanggunan, martabat, serta semangat perjuangan perempuan Indonesia," kata Nannie.
Selain itu, ia menilai gerakan mengenakan kebaya juga memberikan dampak ekonomi bagi para perajin dan pelaku usaha kreatif. Menurutnya, semakin banyak masyarakat mengenakan kebaya, semakin besar dukungan terhadap keberlangsungan wastra tradisional Nusantara.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Semakin banyak masyarakat mengenakan kebaya dan kain tradisional, semakin besar pula dukungan terhadap para perajin. Dukungan itu juga diberikan kepada pelaku usaha kreatif yang menjaga keberlangsungan budaya Indonesia," ujar dia.
Sementara itu, Ketua Umum DPP PIM, Lana T Koentjoro, mengatakan Hari Kebaya Nasional lahir melalui perjuangan panjang organisasi perempuan. Ia menegaskan pelestarian kebaya menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat Indonesia.
"Hari Kebaya Nasional lahir dari perjuangan bersama berbagai organisasi perempuan. Penetapan melalui Keppres Nomor 19 Tahun 2023 menjadi tanggung jawab kita memastikan kebaya terus hidup dalam keseharian masyarakat," ucap Ketua Umum DPP Perempuan Indonesia Maju (PIM) tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Lana menambahkan pelestarian kebaya juga membutuhkan kolaborasi pemerintah, komunitas, akademisi, media, pelaku usaha, dan masyarakat. Menurut dia, pengakuan kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) UNESCO menjadi awal tanggung jawab bersama untuk terus melestarikan dan mewariskannya.
"Ketika seseorang mengenakan kebaya, yang bergerak bukan hanya pelestarian budaya, tetapi juga ekonomi kreatif. Perajin songket, penjahit, desainer, pengrajin aksesori, hingga pelaku UMKM ikut merasakan manfaatnya," kata dia.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan turut mengapresiasi penyelenggaraan parade budaya yang berhasil memecahkan Rekor MURI tersebut. Kegiatan tersebut dinilai memperkuat kecintaan masyarakat terhadap budaya sekaligus mempromosikan kekayaan wastra Indonesia.
"Luar biasa, sejak pagi para peserta mengikuti parade berkebaya dan berkain songket hingga berkumpul dalam rangka pemecahan Rekor MURI. Ini merupakan wujud nyata kecintaan terhadap budaya Indonesia yang patut kita apresiasi," kata Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel), Apriyadi Mahmud.
Apriyadi berharap kegiatan serupa berkembang menjadi gerakan budaya berkelanjutan dengan melibatkan lebih banyak organisasi perempuan. Ia juga menyatakan Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan siap mendukung pemberdayaan perempuan, pelestarian budaya, dan pengembangan ekonomi kreatif.
Menurut Apriyadi, keberhasilan memecahkan Rekor MURI bukan sekadar sebuah prestasi. Momentum tersebut juga semakin memperkuat posisi Sumsel sebagai daerah yang aktif menjaga, melestarikan, dan mempromosikan budaya Indonesia kepada dunia. ils/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!