Cedera Lutut dan Pergelangan Kaki Mendominasi, Pelari Marathon dan Hyrox Diminta Lebih Waspada
📅 Senin, 20 Jul 2026, 18:35 WIB | Oleh: Haryo BronoJAKARTA – Popularitas olahraga seperti marathon, trail run, dan Hyrox terus meningkat di Indonesia. Semakin banyak masyarakat menjadikan olahraga tersebut sebagai bagian dari gaya hidup sehat melalui latihan rutin, bergabung dengan komunitas, hingga mengikuti berbagai ajang kompetisi.
Di balik meningkatnya tren tersebut, para ahli mengingatkan bahwa olahraga berintensitas tinggi memerlukan persiapan yang matang agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal tanpa meningkatkan risiko cedera.
Data Allianz Indonesia menunjukkan, sepanjang Januari hingga Juni 2026 terdapat lima jenis cedera muskuloskeletal yang paling banyak diklaim, yaitu robekan bantalan tulang rawan lutut (meniskus) sebanyak 2.119 kasus, cedera atau robekan ligamen lutut (ACL/PCL) 2.027 kasus, keseleo atau cedera ligamen maupun otot pergelangan kaki 1.468 kasus, patah tulang pergelangan tangan bagian bawah 582 kasus, serta cedera otot dan tendon bahu 519 kasus.
Mayoritas klaim didominasi cedera pada area tungkai bawah, terutama lutut dan pergelangan kaki. Cedera muskuloskeletal sendiri merupakan gangguan pada sistem gerak tubuh, meliputi otot, tulang, sendi, ligamen, dan tendon yang umumnya terjadi akibat aktivitas fisik, penggunaan berulang, maupun benturan saat berolahraga.
Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, Allianz Indonesia juga telah membayarkan 20.247 klaim terkait cedera atau kecelakaan dengan nilai klaim lebih dari Rp176,4 miliar.
Sebaiknya Anda baca juga:
Persiapan Fisik Menjadi Kunci
Head of Health Analytics Allianz Life Indonesia, dr. Tubagus Argie, mengatakan meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga endurance merupakan perkembangan yang positif. Namun, menurutnya, aktivitas fisik dengan intensitas tinggi harus diimbangi dengan persiapan yang memadai.
"Meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga seperti marathon, trail run, maupun hyrox merupakan tren yang positif karena menunjukkan semakin banyak orang menjalani gaya hidup aktif. Namun, olahraga dengan intensitas tinggi memerlukan persiapan yang matang,” ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Progressive training, latihan kekuatan, pemulihan (recovery) yang cukup, nutrisi dan hidrasi yang seimbang, serta kemampuan mengenali batas tubuh merupakan faktor penting untuk membantu mengurangi risiko cedera. Jangan sampai semangat berolahraga justru berujung pada cedera yang sebenarnya dapat dicegah," tambahnya.
Menurutnya, persiapan yang baik tidak hanya membantu meningkatkan performa saat berolahraga, tetapi juga membuat tubuh lebih siap menghadapi aktivitas fisik berintensitas tinggi sehingga risiko cedera dapat ditekan.
Medical Check-up Sebelum Memulai Latihan
Bagi masyarakat yang baru mulai menjalani olahraga dengan intensitas tinggi atau memiliki faktor risiko kesehatan tertentu, pemeriksaan kesehatan (medical check-up) juga dianjurkan sebelum memulai program latihan.
Pemeriksaan tersebut dapat membantu mendeteksi kondisi kesehatan yang belum menimbulkan gejala sekaligus memastikan tubuh berada dalam kondisi yang cukup prima untuk menjalani aktivitas fisik dengan intensitas tinggi.
Menutup keterangannya, dr. Tubagus Argie menegaskan bahwa olahraga akan memberikan manfaat optimal apabila dibarengi dengan persiapan dan perlindungan kesehatan yang memadai.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!