Kemkomdigi: AI Harus Diposisikan sebagai Alat untuk Lengkapi Kemampuan Manusia, bukan sebagai Pengganti
📅 Kamis, 16 Jul 2026, 14:32 WIB | Oleh: SriyonoJAKARTA - Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) memetakan langkah-langkah strategis untuk mengatasi kesenjangan kapabilitas kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) di tengah tingginya tingkat adopsi teknologi tersebut dalam masyarakat.
Langkah-langkah untuk mengatasi kesenjangan kecakapan diarahkan untuk memastikan pemanfaatan AI tidak berhenti pada penggunaan dasar, tetapi dapat mendorong transformasi di sektor pendidikan, kesehatan, jasa keuangan, dan pemerintahan.
"Adopsi saja mungkin tidak cukup, memakai AI saja tidak cukup, tapi bagaimana kapabilitas dalam menggunakannya menjadi sangat penting," kata Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria dalam forum diskusi bertajuk "Closing the AI Capability Gap in Indonesia" di Jakarta Pusat pada Rabu (15/7).
Sebagaimana dikutip dalam keterangan kementerian yang dikonfirmasi pada Kamis, Nezar mengatakan bahwa Indonesia saat ini termasuk negara dengan tingkat adopsi AI tinggi di dunia.
Indonesia masuk ke dalam lima besar dunia dalam penggunaan ChatGPT untuk coding dan analisis data serta pendidikan, dan hampir separuh angkatan kerjanya telah memanfaatkan AI setiap minggu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, tingkat adopsi yang tinggi itu belum diimbangi dengan kemampuan memanfaatkan AI secara mendalam, baik oleh individu maupun pelaku usaha.
Nezar mengemukakan bahwa saat ini tantangan terbesarnya bukan lagi pada akses terhadap teknologi, melainkan pada kualitas pemanfaatannya.
Menurut dia, kesenjangan dalam penguasaan teknologi antara lain terlihat dari masih lebarnya jarak antara pengguna AI yang paling mahir dengan pengguna rata-rata serta tingkat pemanfaatan AI yang belum merata di sektor usaha.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebagian besar pelaku usaha masih menggunakan AI untuk kebutuhan operasional dasar, hanya sebagian kecil yang telah memanfaatkannya untuk mentransformasi model bisnis.
Di samping itu, jutaan usaha mikro, kecil, dan menengah belum sepenuhnya terintegrasi ke dalam ekosistem digital dan belum siap memanfaatkan AI secara optimal.
"Kita tidak bisa membangun satu AI house atau rumah AI atas fondasi yang bahkan belum pernah terdigitalisasi," kata Nezar.
Guna menjawab tantangan-tantangan tersebut, pemerintah berupaya memperkuat fondasi pengembangan AI dengan menyusun regulasi Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial, Peta Jalan AI Nasional, serta Etika AI Nasional.
Menurut Nezar, kebijakan-kebijakan tersebut akan menjadi landasan untuk memastikan pengembangan AI berlangsung secara aman, terarah, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Kita membutuhkan kerangka pengembangan AI yang jelas dan kuat dengan perencanaan yang matang," katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!