Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Bappenas Perkuat Analisis Kenaikan Muka Air Laut, Risiko Pesisir Tak Bisa Lagi Diabaikan

📅 Selasa, 14 Jul 2026, 19:05 WIB | Oleh: Tim Penulis
Bappenas Perkuat Analisis Kenaikan Muka Air Laut, Risiko Pesisir Tak Bisa Lagi Diabaikan Doc: ANTARA FOTO/ Harviyan Perdana Putra.
Ket. Foto udara kondisi banjir rob di Slamaran, Pekalongan, Jawa Tengah.

JAKARTA – Kenaikan muka air laut menjadi salah satu dampak nyata perubahan iklim yang semakin mengancam kawasan pesisir.

Fenomena ini meningkatkan risiko banjir rob, abrasi pantai, intrusi air laut ke sumber air tawar, hingga kerusakan infrastruktur dan hilangnya lahan produktif.

Karena itu, upaya mitigasi dan adaptasi seperti penguatan perlindungan pesisir, penataan ruang berbasis risiko, serta pengurangan emisi gas rumah kaca perlu dilakukan secara terpadu agar dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan dapat ditekan dalam jangka panjang.

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/ Bappenas) mengembangkan analisis kenaikan muka air laut melalui Sistem Perencanaan Kolaboratif dan Analisis Data Terpadu (SEPAKAT).

Analisis ini mengintegrasikan data spasial, sosial ekonomi, layanan dasar, infrastruktur, kelompok rentan, dan perlindungan sosial dari berbagai institusi pemerintah, sehingga memberikan gambaran mengenai wilayah yang perlu menjadi perhatian, masyarakat yang berpotensi terdampak, layanan yang perlu diperkuat, serta intervensi pembangunan yang dapat diprioritaskan.

“Analisis SEPAKAT membantu memperluas pemahaman mengenai dampak kenaikan muka air laut, tidak hanya terhadap kondisi fisik wilayah, tetapi juga terhadap kesejahteraan masyarakat, layanan dasar, aktivitas ekonomi, dan infrastruktur,” ungkap Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Kependudukan, dan Ketenagakerjaan Kementerian PPN/Bappenas Maliki dalam agenda Dialog Kebijakan Nasional Kenaikan Muka Air Laut, dari keterangan resmi, Jakarta, Selasa (14/7).

Hasil analisis tersebut dituangkan dalam Dashboard Kenaikan Muka Air Laut pada aplikasi SEPAKAT serta buku “Kenaikan Muka Air Laut: Memahami Dampak Sosial Ekonomi Kenaikan Muka Air Laut untuk Perencanaan Pembangunan yang Adaptif” yang juga diluncurkan bersamaan dengan dialog ini.

Kedua instrumen tersebut diharapkan mendukung pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam mengintegrasikan isu kenaikan muka air laut ke dalam dokumen perencanaan pembangunan dan tata ruang, seperti Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), Rencana Kerja Pemerintah (RKP), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR).

Berdasarkan hasil analisis SEPAKAT, terdapat 4.787 pekerja informal perkotaan, 4.566 pekerja sektor perikanan dan peternakan, 65,5 persen kepala keluarga perempuan non-penerima Program Bantuan Sosial, 14,59 persen wilayah Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) pesisir, serta 537 infrastruktur strategis yang perlu menjadi perhatian dalam penyusunan kebijakan adaptasi dalam menghadapi skenario kenaikan muka air laut setinggi 25 sentimeter.

"Data permukaan air laut ini sudah ada dan fenomena itu akan terjadi. Kita sebagai kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya mempunyai kesempatan untuk mengantisipasi jauh lebih awal dari sekarang, sehingga mitigasi dan resiliensi masyarakat dapat kita bangun secepat mungkin," ujar Deputi Maliki.

Dalam dialog tersebut, Pemerintah Provinsi Gorontalo turut berbagi pengalaman memanfaatkan data dan analisis dampak kenaikan muka air laut melalui penyusunan berbagai ringkasan kebijakan yang mencakup isu adaptasi bencana dan akses layanan dasar bagi masyarakat miskin dan rentan di wilayah pesisir.

Pelaksana Harian (Plh) Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia Tim Stapleton menyampaikan bahwa Pemerintah Australia mendukung upaya Pemerintah Indonesia dalam mengembangkan pendekatan perencanaan yang semakin responsif terhadap perubahan iklim dan kebutuhan masyarakat.

“Melalui SKALA program kemitraan Australia-Indonesia untuk tata kelola desentralisasi, Australia mendukung pemerintah Indonesia dalam memperkuat perencanaan berbasis bukti, penggunaan data, dan penyediaan layanan dasar bagi masyarakat miskin dan rentan. Australia dan Indonesia akan terus bekerjasama untuk membangun ketahanan, melindungi komunitas yang rentan, dan mendukung pembangunan inklusif berbasis bukti,” ujar Tim Stapleton.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.