Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Terapi Inovatif Tirzepatide Masuk Indonesia, Perluas Pilihan Pengobatan Penyakit Metabolik

📅 Minggu, 05 Jul 2026, 16:37 WIB | Oleh:
Terapi Inovatif Tirzepatide Masuk Indonesia, Perluas Pilihan Pengobatan Penyakit Metabolik Doc: APL
Ket. Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM) dan Christophe Piganiol, Presiden Direktur APL dalam kegiatan Media Briefing: APL Hadirkan Tirzepatide untuk Memperkuat Tatalaksana Penyakit Metabolik di Indonesia di Jakarta pada hari Sabtu (4/7).

JAKARTA – Indonesia memiliki tambahan pilihan terapi untuk menangani diabetes melitus tipe 2 dan obesitas setelah PT Anugerah Pharmindo Lestari (APL), perusahaan di bawah Zuellig Pharma, menghadirkan tirzepatide ke pasar nasional. Obat ini menjadi agonis reseptor ganda glucose-dependent insulinotropic polypeptide (GIP) dan glucagon-like peptide-1 (GLP-1) pertama yang tersedia di Indonesia untuk membantu penanganan dua penyakit metabolik tersebut.

Kehadiran tirzepatide diumumkan APL di Jakarta, Minggu (5/7), di tengah meningkatnya beban penyakit metabolik di Indonesia.

Data International Diabetes Federation (IDF) Diabetes Atlas 2025 menunjukkan sekitar 20,4 juta penduduk Indonesia berusia 20–79 tahun hidup dengan diabetes. Jumlah tersebut diperkirakan meningkat menjadi 28,6 juta orang pada 2050 apabila tidak ada upaya pengendalian yang efektif.

Sementara itu, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi obesitas pada orang dewasa Indonesia telah mencapai 23,4 persen, meningkat dibandingkan satu dekade sebelumnya. Diabetes dan obesitas diketahui saling berkaitan serta meningkatkan risiko berbagai komplikasi serius, seperti penyakit kardiovaskular, gangguan ginjal kronis, hingga penurunan kualitas hidup.

Presiden Direktur PT Anugerah Pharmindo Lestari, Christophe Piganiol, mengatakan kehadiran tirzepatide merupakan bagian dari upaya perusahaan memperluas akses masyarakat terhadap terapi inovatif berbasis bukti ilmiah.

"Kami ingin memastikan lebih banyak pasien memperoleh akses terhadap terapi yang tepat melalui kolaborasi dengan regulator, organisasi profesi, dan tenaga kesehatan, sehingga dapat membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat," ujarnya melalui siaran pers Minggu (5/7).

APL menyebut proses menghadirkan tirzepatide di Indonesia dilakukan melalui koordinasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Obat tersebut memperoleh izin edar dalam waktu 98 hari kerja, sementara persetujuan indikasi untuk manajemen berat badan kronis diperoleh dalam 42 hari kerja melalui mekanisme reliance.

Skema percepatan yang mulai diterapkan BPOM sejak Agustus 2025 memungkinkan obat-obatan inovatif yang telah mendapat persetujuan di negara rujukan diproses lebih cepat di Indonesia, dengan tetap melalui evaluasi keamanan, khasiat, dan mutu.

Kepala BPOM, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., mengatakan seluruh obat yang memperoleh izin edar tetap harus melalui penilaian ilmiah secara menyeluruh sebelum dapat dipasarkan.

"BPOM berkomitmen membangun ekosistem regulasi yang adaptif agar masyarakat Indonesia dapat memperoleh manfaat dari inovasi di bidang kesehatan dengan tetap menjunjung tinggi standar keselamatan pasien," katanya.

Secara ilmiah, tirzepatide bekerja dengan mengaktivasi dua hormon inkretin alami, yakni GIP dan GLP-1. Kedua hormon tersebut berperan dalam mengendalikan kadar gula darah, meningkatkan sensitivitas insulin, mengurangi nafsu makan, serta membantu mengatur keseimbangan energi tubuh.

Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Prof. Dr. dr. Em Yunir, SpPD-KEMD, mengatakan berbagai uji klinis menunjukkan tirzepatide mampu memberikan pengendalian gula darah yang baik sekaligus membantu penurunan berat badan pada pasien diabetes melitus tipe 2.

Menurutnya, kehadiran terapi baru tersebut memberi lebih banyak pilihan bagi dokter untuk menyesuaikan pengobatan berdasarkan kondisi klinis masing-masing pasien serta komplikasi yang menyertainya.

Sementara itu, Ketua Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI), Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D., mengingatkan bahwa obesitas merupakan penyakit metabolik yang tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan bentuk tubuh.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Dieng Culture Festival 2026 Digelar Agustus

30 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Daerah
Dieng Culture Festival 2026...
Tayang 8 Juli di Bioskop Indonesia, Film "Moana" versi Live-Action Dibintangi Dwayne "The Rock" Johnson

Tayang 8 Juli di Bioskop Indonesia, Film "Moana" versi Live-Action Dibintangi Dwayne "The Rock" Johnson

05 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.