Di Balik Panen Melimpah Badui, Ada Warisan Bertani yang Terjaga Lintas Generasi
📅 Sabtu, 04 Jul 2026, 10:30 WIB | Oleh: Tim PenulisLEBAK – Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat adat Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, tetap setia menjaga tradisi bertani yang diwariskan turun-temurun.
Dengan mengolah padi huma menggunakan kearifan lokal dan mengikuti siklus alam, mereka mampu menghasilkan panen yang melimpah tanpa bergantung pada teknologi pertanian modern.
Bagi masyarakat Badui, bertani bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bagian dari cara hidup yang menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
Hasil panen tersebut kemudian disimpan di lumbung-lumbung adat sebagai cadangan pangan yang dapat dimanfaatkan saat musim kemarau atau ketika hasil panen berikutnya belum tiba.
Tradisi ini menjadi bukti bahwa ketahanan pangan tidak hanya dibangun melalui peningkatan produksi, tetapi juga melalui budaya mengelola dan menjaga hasil panen secara bijaksana.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dari pedalaman Lebak, masyarakat Badui menunjukkan bahwa kearifan lokal tetap relevan sebagai fondasi ketahanan pangan yang berkelanjutan di tengah tantangan perubahan iklim.
"Sampai saat ini ketersediaan pangan masyarakat Badui aman," kata Tetua Adat yang juga Kepala Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak Jaro Oom saat dihubungi di Banten, Jumat (3/7).
Masyarakat adat Badui hingga kini memiliki cadangan pangan hingga ribuan lumbung atau "leuit" untuk menyimpan gabah hasil panen padi huma.
Sebaiknya Anda baca juga:
Mereka setiap panen setahun sekali menyimpan padi di lumbung-lumbung atau leuit, sebagai cadangan pangan keluarga agar musim kemarau panjang maupun bencana alam atau serangan hama tidak menimbulkan kerawanan pangan.
"Karena itu, masyarakat Badui hingga kini belum pernah mengalami kerawanan pangan maupun kelaparan," kata Jaro Oom.
Menurut dia, masyarakat Badui sejak dulu hingga sekarang telah merasakan kedaulatan pangan berkelanjutan dengan adanya lumbung leuit untuk menyimpan gabah hasil panen.
Diperkirakan jumlah lumbung leuit yang ada sebanyak 8.000 leuit dari 4.000 kepala keluarga dengan penduduk 13.309 jiwa.
Dari 8.000 lumbung pangan itu jika rata-rata sebanyak tiga ton/lumbung, sehingga jumlah total 24 ribu ton gabah.
"Kami meyakini stok pangan yang ada di lumbung itu bisa terjaga untuk pertahanan pangan keluarga," katanya menjelaskan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!