Mampukah Jalan Layang Latumeten Mencairkan Kemacetan? Kemampetan Grogol dari Dulu tak Bisa Diurai
📅 Kamis, 02 Jul 2026, 12:32 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: ist
JAKARTA – Dulu saat Orba membangun jalan Kawasan Grogol selalu macet luar biasa. Kala itu pejabat bergumam, “Nanti kalau sudah selesai akan lancar, tak macet lagi.” Apa yang terjadi? Setelah jalan laying dan jalan tol selesai, kemacetan Grogol dan sekitarnya tak pernah selesai.
Kini satu lagi Flyover Latumenten di Grogol, Jakarta Barat, diharpkan selesaikan kemacetan. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta memisahkan arus lalu lintas kendaraan dari perlintasan kereta api sehingga lalu lintas di kawasan tersebut diharap lebih lancar.
Gubernur Jakarta, Pramono Anung, mengatakan proyek ini merupakan salah satu proyek strategis prioritas Pemprov DKI untuk meningkatkan kualitas infrastruktur transportasi sekaligus mengurai kepadatan lalu lintas di Jakarta Barat.
"Flyover Latumenten ini salah satu flyover yang paling ditunggu di Jakarta. Karena di sini, pagi, siang, maupun sore, kemacetannya sangat tinggi. Maka ketika diusulkan, saya menyampaikan bahwa ini menjadi prioritas utama untuk mengurai kemacetan di kawasan Grogol, Pluit, Slipi, dan sekitarnya," ujarnya saat meninjau pekerjaan konstruksi terintegrasi rancang dan bangun Flyover Latumenten, Kamis (2/7).
Gubernur Pramono menilai progres pembangunan Flyover Latumenten berjalan sesuai rencana. Ia berharap proyek tersebut selesai tepat waktu sehingga dapat segera dimanfaatkan masyarakat.
"Sekarang progresnya sudah mencapai 55,2 persen dengan anggaran pembangunan Rp259 miliar. Saya berharap proyek ini selesai tepat waktu, yakni pada 15 Desember 2026, sehingga lalu lintas di salah satu kawasan yang selama ini paling banyak dikeluhkan bisa menjadi lebih lancar," tambahnya.
Selain flyover, di kawasan tersebut juga dibangun Jembatan Penyeberangan Orang (JPO). JPO dirancang dengan mengedepankan prinsip aksesibilitas dan inklusivitas sehingga dapat dimanfaatkan seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, lanjut usia, ibu hamil, dan anak-anak. Kehadiran JPO diharapkan tidak hanya meningkatkan keselamatan pejalan kaki, tetapi juga memperkuat konektivitas antarsimpul transportasi dan kawasan sekitarnya.
Untuk mendukung pengembangan kawasan berkonsep Transit Oriented Development (TOD), dibangun pula halte Transjakarta yang terintegrasi dengan Stasiun Grogol. Kehadiran halte tersebut diharapkan semakin memudahkan masyarakat mengakses transportasi umum sekaligus mendorong peningkatan penggunaan angkutan umum.
Flyover Latumenten yang mengarah ke Slipi memiliki panjang 435 meter dan lebar 11 meter dengan kapasitas dua lajur kendaraan umum serta satu lajur busway. Sementara itu, flyover yang mengarah ke Grogol memiliki panjang 420 meter dan lebar 11 meter dengan kapasitas dua lajur kendaraan umum serta satu lajur busway.
Dengan sisa waktu pengerjaan sekitar lima bulan, percepatan pembangunan terus dilakukan secara simultan agar target operasional pada akhir 2026 dapat tercapai dan memberikan manfaat bagi mobilitas warga Jakarta.
Dinas Bina Marga DKI Jakarta bersama seluruh pihak terkait berkomitmen menjaga kualitas pekerjaan, keselamatan konstruksi, serta meminimalkan dampak terhadap aktivitas masyarakat selama proses pembangunan berlangsung.
Selama masa konstruksi, akan dilakukan sejumlah penyesuaian rekayasa lalu lintas. Masyarakat diimbau mematuhi rambu lalu lintas, mengikuti arahan petugas di lapangan, serta mengutamakan keselamatan saat melintas di area pekerjaan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!