Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Defisit Melejit 6 Kali Lipat, Kredibilitas Fiskal Jadi Taruhan

📅 Kamis, 02 Jul 2026, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Defisit Melejit 6 Kali Lipat, Kredibilitas Fiskal Jadi Taruhan Doc: istimewa
Ket. Peneliti Center of Reform on Economics (Core), Yusuf Rendi Manilet menilai lonjakan defisit APBN 2026 saat ini perlu diwaspadai meski masih jauh di bawah batas aman tiga persen dari PDB.

Defisit APBN pada lima bulan pertama 2026 melonjak hampir enam kali lipat dibandingkan periode sama tahun lalu, mencerminkan meningkatnya tekanan fiskal akibat pertumbuhan belanja negara yang melampaui penerimaan.

JAKARTA – Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia dalam 5 bulan pertama 2026 melonjak tajam atau hampir 6 kali lipat dibanding periode sama tahun lalu, mencerminkan meningkatnya tekanan fiskal di tengah kebutuhan belanja negara yang tetap tinggi. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh pertumbuhan belanja yang lebih cepat dibandingkan penerimaan negara.

Peneliti Center of Reform on Economics (Core), Yusuf Rendi Manilet menilai lonjakan defisit APBN 2026 saat ini perlu diwaspadai meski masih jauh di bawah batas aman tiga persen dari PDB. Menurutnya, pasar lebih memperhatikan arah kebijakan fiskal dan penyebab pelebaran defisit daripada sekadar besaran defisit.

“Jika defisit melebar karena percepatan belanja pemerintah di awal tahun, kondisinya masih relatif terkendali karena penerimaan negara biasanya meningkat pada semester kedua. Namun risikonya lebih besar jika disebabkan faktor struktural seperti melemahnya penerimaan pajak, turunnya harga komoditas, atau perlambatan ekonomi,” jelasnya di Jakarta, Rabu (1/7).

Yusuf menilai kenaikan defisit yang hampir enam kali lipat sulit dijelaskan hanya oleh faktor musiman sehingga wajar jika pasar menjadi lebih berhati-hati. Karena itu, kredibilitas fiskal pemerintah menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan pasar melalui disiplin anggaran dan penjelasan yang transparan mengenai sumber defisit serta langkah konsolidasinya.

Seperti diketahui, selama Januari-Mei 2026, APBN tercatat defisit 135 triliun rupiah atau setara 0,5 persen terhadap PDB. Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan catatan defisit APBN pada periode sama 2025 sebesar 21 triliun rupiah atau sekitar 0,1 persen terhadap PDB.

Risiko Berantai

Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti memperingatkan defisit APBN 2026 berpotensi melampaui batas aman tiga persen terhadap PDB akibat kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah. Menurutnya, setiap kenaikan 1 dollar AS per barel harga minyak dapat menambah beban APBN sekitar 6,8 triliun rupiah, sementara pelemahan rupiah 100 rupiah per dollar AS berpotensi menambah beban sekitar 800 miliar rupiah.

“Kondisi tersebut meningkatkan risiko fiskal secara berantai,” ujarnya saat dihubungi dari Jakarta, kemarin.

Esther menjelaskan pelebaran defisit akan memaksa pemerintah meningkatkan pembiayaan melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) atau utang luar negeri, yang pada akhirnya memperbesar beban pembayaran pokok dan bunga utang di masa depan. Selain itu, kondisi tersebut berisiko memicu inflasi jika peredaran uang meningkat tanpa diimbangi pasokan barang yang memadai, serta mendorong kenaikan suku bunga karena pemerintah harus menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi untuk menarik investor membeli surat utang.

Untuk mengurangi risiko tersebut, Esther meminta pemerintah berhati-hati dalam mengelola defisit APBN dan memfokuskan pemberian insentif pada sektor-sektor produktif yang mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi dan menghasilkan pendapatan secara berkelanjutan, sehingga tidak terus bergantung pada dukungan fiskal pemerintah.

Sebelumnya, Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto mengatakan Indonesia memiliki beberapa tantangan dari dampak situasi ekonomi global yang diliputi ketidakpastian atau bergejolak dengan perhatian utama pada defisit fiskal.

“Sementara kalau kita sekarang di 5 bulan defisitnya sudah 0,5 persen ya, pasti market juga bertanya apakah Indonesia masih bisa mempertahankan defisit di bawah 3 persen. Nah ini yang mungkin harus masih dipertanyakan ya,” kata Rully dalam acara Media Day Mirae Asset Sekuritas di Jakarta, Selasa (30/6).

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Pertamina dan KKP Berkolaborasi Perkuat Pasokan BBM Nelayan Dukung Perikanan Nasional

Pertamina dan KKP Berkolaborasi Perkuat Pasokan BBM Nelayan Dukung Perikanan Nasional

02 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.