Penataan Makam Sunan Gunung Jati Mulai Terasa, Peziarah Kini Bisa Berjalan Lebih Tenang.
📅 Rabu, 01 Jul 2026, 06:15 WIB | Oleh: Yebdi TrismarPada Sabtu (27/6) siang, satu per satu bus pariwisata mulai memasuki kawasan Makam Sunan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
Rombongan peziarah turun bergantian, lalu melangkah menuju gerbang kompleks makam. Sebagian singgah sejenak untuk membeli bunga tabur atau tasbih, sementara yang lain memilih langsung masuk untuk memanjatkan doa.
Beberapa waktu terakhir kawasan itu lebih ramai dari biasanya. Pedagang sibuk melayani pembeli, kendaraan terus keluar masuk area parkir, sementara peziarah datang silih berganti dari berbagai daerah.
Di tengah keramaian itu, ada satu perubahan yang mudah dirasakan. Jalan menuju kompleks makam kini terasa lebih lapang.
Peziarah pun dapat berjalan tanpa harus berkali-kali berhenti karena dihampiri orang yang meminta sedekah. Pemandangan yang dulu begitu lekat dengan kawasan wisata religi itu kini mulai berubah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Aris (47), peziarah asal Semarang, menjadi salah satu yang merasakan perubahan tersebut. Bersama istri dan kedua anaknya, ia kembali berziarah ke Gunung Jati setelah sekitar empat tahun tidak datang ke Cirebon.
Sepanjang perjalanan menuju makam, Aris beberapa kali menoleh ke kanan dan kiri. Ia seperti memastikan tidak ada yang terlewat dari ingatannya.
“Rasanya berbeda sekali. Dulu baru turun dari bus sudah banyak yang menghampiri minta sedekah. Sekarang kami bisa jalan sampai ke gerbang dengan tenang,” katanya kepada ANTARA.
Bagi Aris, kenyamanan itu membuat tujuan utama kedatangannya tidak terganggu. Ia dan keluarganya bisa lebih khusyuk berziarah tanpa terus-menerus mengalihkan perhatian.
Perubahan itu pula yang membuat mereka memutuskan tidak langsung pulang ke Semarang. Seusai berziarah, Aris berencana mengajak keluarganya menikmati kuliner khas Cirebon dan bermalam sebelum kembali keesokan harinya.
Kesan serupa dirasakan Ikhwan (34), peziarah asal Tegal. Sebelum berangkat, ia sempat mendengar cerita dari kerabat yang pernah datang ke Gunung Jati beberapa tahun lalu. Mereka menggambarkan kawasan makam sebagai tempat yang selalu dipenuhi pengemis.
Cerita itu membuat Ikhwan sempat menyiapkan uang receh di saku. Namun, sesampainya di lokasi, pemandangan yang ia temui justru berbeda.
“Yang saya lihat sekarang rapi. Orang datang bisa langsung berziarah tanpa merasa sungkan atau terus dihampiri. Suasananya jadi lebih tenang,” ujarnya.
Ikhwan menyampaikan, perubahan tersebut bukan sekadar membuat kawasan makam terlihat lebih tertib.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!