Penataan Makam Sunan Gunung Jati Mulai Terasa, Peziarah Kini Bisa Berjalan Lebih Tenang.
📅 Rabu, 01 Jul 2026, 06:15 WIB | Oleh: Yebdi Trismar"Yang kami jaga bukan hanya ketertiban, tetapi juga marwah Cirebon sebagai kota tujuan wisata religi," katanya.
Menurut Eko, setiap hari ratusan peziarah datang dari berbagai daerah. Kesan mereka terhadap Cirebon akan terbentuk dari apa yang dilihat dan dialami selama berada di kawasan makam. Karena itu, ia merasa perlu mencari jalan keluar setelah menyaksikan langsung praktik pungutan liar, pemaksaan terhadap peziarah, hingga keterlibatan anak-anak dalam aktivitas meminta-minta.
"Kalau kondisi itu terus dibiarkan, dampaknya tidak baik bagi Cirebon. Orang yang datang ke sini berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Kesan mereka terhadap daerah ini tentu ikut terbentuk dari apa yang mereka lihat," ujarnya.
Untuk menjaga perubahan tersebut, empat personel kepolisian bersama petugas gabungan masih disiagakan setiap hari di sekitar kompleks makam.
Sebaiknya Anda baca juga:
Eko berharap kawasan yang kini lebih tertata dapat memperkuat daya tarik wisata religi Cirebon, memberi pengalaman yang lebih baik bagi peziarah, tetap menghidupkan ekonomi masyarakat sekitar, sekaligus menjaga nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu.
Marwah yang kembali
Ramainya peziarah selama ini tidak hanya menjaga denyut kawasan Makam Sunan Gunung Jati, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian warga. Warung makan, pedagang oleh-oleh, hingga perajin batik ikut merasakan manfaat dari arus kunjungan yang nyaris tak pernah sepi.
Data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cirebon menunjukkan, selama libur Lebaran 13–25 Maret 2026 tercatat 11.510 kunjungan ke berbagai destinasi wisata. Sebanyak 11.492 di antaranya merupakan wisatawan domestik dan 18 wisatawan mancanegara.
Dari seluruh destinasi tersebut, kawasan Makam Sunan Gunung Jati tetap menjadi tujuan utama peziarah, sementara wisata alam, kolam renang, dan objek wisata buatan melengkapi pilihan para pengunjung.
Bupati Cirebon Imron menilai wisata religi merupakan salah satu kekuatan utama daerahnya. Selain menggerakkan ekonomi masyarakat, sektor ini juga berhasil mendongkrak kunjungan wisata. Target 1,2 juta wisatawan pada 2025 pun terlampaui, dengan kawasan Gunung Jati menjadi penyumbang kunjungan terbesar.
Di balik gerbang makam, tradisi yang telah berlangsung ratusan tahun tetap terjaga. Para juru kunci menjalankan tugas merawat kawasan sebagai bentuk pengabdian yang diwariskan turun-temurun.
Di kompleks Gunung Jati terdapat sekitar 15 juru kunci yang berasal dari satu keluarga, sedangkan di Gunung Sembung lebih dari 100 penjaga bertugas dalam kelompok sesuai tanggung jawab masing-masing.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!