Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Presiden Prabowo Turun ke Sawah di Gorontalo, Saksikan Langsung Cara Tanam Petani di PENAS KTNA XVII.

📅 Minggu, 28 Jun 2026, 10:05 WIB | Oleh:

Menteri Pertanian, bahkan menyebut Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar keempat di dunia dengan produksi sekitar 38 juta ton.

Capaian tersebut lahir dari kombinasi berbagai kebijakan yang telah dijalankan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari penggunaan benih unggul, rehabilitasi jaringan irigasi, mekanisasi pertanian, optimalisasi lahan rawa, hingga perluasan areal tanam.

Dengan begitu, PM-AAS lebih tepat dipandang sebagai tahapan berikutnya dalam strategi peningkatan produktivitas nasional. Ketika produksi nasional mulai menunjukkan surplus, perhatian pemerintah bergeser pada bagaimana menghasilkan lebih banyak gabah dari lahan yang sama tanpa terus bergantung pada pembukaan areal baru.

Kunjungan Presiden yang turun langsung ke petak sawah di Gorontalo memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar meninjau demonstrasi teknologi.

Presiden melihat hasil panen yang sudah dicapai, sekaligus mengamati kemungkinan yang masih dapat dikembangkan. Teknologi yang kini masih diterapkan pada lahan-lahan percontohan diproyeksikan menjadi model yang dapat diperluas ke berbagai daerah apabila terbukti konsisten meningkatkan produktivitas.

Presiden Prabowo secara tegas menginginkan teknologi tersebut diperkenalkan kepada petani di seluruh Indonesia.

"Kita ingin supaya disosialisasikan, diajarkan ke semua daerah. Kita mau tiap desa bisa swasembada, tiap kecamatan swasembada, tiap kabupaten swasembada, tiap provinsi swasembada, minimal kalau bisa provinsi produksi untuk ekspor ke tempat lain. Ini kita punya strategi ke depan," ujarnya.

Namun, Presiden juga mengingatkan bahwa peningkatan produksi tidak boleh berhenti sebagai pencapaian jangka pendek. Dalam pandangannya, keberhasilan itu harus dibangun sebagai sistem yang berkelanjutan, bukan sekadar fenomena yang berlangsung satu atau dua tahun.

Tantangan terbesar PM-AAS justru berada di luar petak demonstrasi. Keberhasilan di lahan percontohan memang penting sebagai pembuktian awal, tetapi tantangan sesungguhnya adalah memastikan teknologi yang sama dapat diterapkan secara konsisten dan presisi di jutaan hektare sawah Indonesia yang memiliki kondisi tanah, iklim, sumber air, hingga kapasitas petani yang sangat beragam.

Indonesia memiliki sekitar 7,4 juta hektare lahan sawah dengan karakteristik yang berbeda-beda, mulai dari sawah irigasi teknis di Pulau Jawa hingga lahan rawa pasang surut di Sumatera dan Kalimantan. Sistem budi daya yang berhasil di satu wilayah belum tentu memberikan hasil serupa di wilayah lain, tanpa penyesuaian.

Namun, PM-AAS sejak awal sudah dirancang sebagai sistem yang adaptif, mengingat beragamnya faktor geografis Indonesia. Prinsip-prinsip utamanya dapat diterapkan secara fleksibel sesuai kondisi masing-masing daerah sehingga tidak menjadi paket teknologi yang seragam.

Perjalanan PM-AAS masih panjang. Dari ratusan hektare lahan percontohan menuju jutaan hektare sawah nasional, terdapat banyak tahapan yang harus dilalui, mulai dari penyuluhan, pendampingan petani, penyediaan sarana produksi, hingga kesiapan infrastruktur pendukung. Jika seluruh mata rantai itu dapat berjalan beriringan, maka peningkatan produktivitas yang kini terlihat di Gorontalo berpeluang menjadi bagian dari transformasi pertanian nasional yang lebih luas.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Megapolitan
Tangerang Perkuat Transpara...

Pasar Tengah Buruk, Pemprov Tunda IPO

23 menit yang lalu | Sujar

Megapolitan
Pasar Tengah Buruk, Pemprov...

Jaga Persatuan dan Kerukunan lewat Keberagaman

27 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Jaga Persatuan dan Kerukuna...
Nasional
RUU Perampasan Aset Jangan ...
Luar Negeri
IMF Khawatirkan Fragmentasi...
Nasional
Perkembangan AI Terlalu Cep...
Megapolitan
Aparat Perketat Gerakan Pel...
Advertisement
Usai Prancis Membara, Kini Meksiko Rusuh Gara-gara Krisis Air

Usai Prancis Membara, Kini Meksiko Rusuh Gara-gara Krisis Air

19 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.