Kreatif dan Inovatif Banget! Dosen ITB Ini Sulap Sampah Organik Jadi Telur dan Daging
📅 Rabu, 24 Jun 2026, 14:25 WIB | Oleh: Ilham SudrajatIa juga memberdayakan Karang Taruna melalui pengembangan ekonomi sirkular berbasis pengelolaan sampah dan pertanian organik skala rumah tangga untuk mendukung konsep Zero Waste sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat.
Pada tahun yang sama, ia juga melakukan berbagai penelitian mengenai mitigasi bencana gempa, pemanfaatan metode geofisika di daerah rawan bencana Cianjur, serta perencanaan logistik kemanusiaan pascagempa.
Siklus Tanpa Limbah
Rekam jejak penelitian Linus juga menunjukkan konsistensi yang panjang. Sejak 2023 hingga 2015, ia menghasilkan berbagai penelitian mengenai mitigasi gempa bumi, tanah longsor, analisis sinyal seismik Gunung Tangkuban Parahu, kecerdasan buatan untuk klasifikasi gempa vulkanik dan risiko longsor, eksplorasi panas bumi, hingga kajian potensi bencana tanah longsor di kawasan pariwisata Tana Toraja.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pendekatan ilmiah selalu menjadi dasar dalam setiap inovasi yang dikembangkannya, termasuk pengelolaan sampah berbasis maggot dan peternakan terpadu.
Dengan bekal pengalaman akademik, penelitian, dan pengabdian masyarakat tersebut, Bersemi Farm tidak sekadar menjadi proyek lingkungan, tetapi merupakan implementasi nyata hasil riset perguruan tinggi yang diterapkan langsung di tengah masyarakat untuk menjawab persoalan sampah, memperkuat ketahanan pangan, mendukung program penurunan stunting, sekaligus mendorong terwujudnya ekonomi sirkular di tingkat permukiman.
Konsep yang dibangunnya berbeda dengan pengolahan sampah organik pada umumnya. Jika komposter membutuhkan waktu hingga tiga bulan untuk mengurai limbah, larva lalat tentara hitam atau maggot mampu menyelesaikan proses tersebut hanya dalam waktu sekitar 48 jam.
Sebaiknya Anda baca juga:
Lebih menarik lagi, maggot hasil penguraian itu tidak berhenti sebagai limbah, melainkan dimanfaatkan kembali sebagai pakan ayam kampung, ikan, hingga entok. Bahkan sisa makanan matang dari rumah tangga langsung menjadi pakan ternak, sementara kulit buah dan sayuran menjadi makanan utama maggot. Sistem tersebut menciptakan siklus yang nyaris tanpa limbah.
"Kami ingin memperpanjang siklus sampah organik. Jangan berhenti menjadi kompos saja, tetapi bisa menghasilkan protein untuk masyarakat," ujar dia.
Apartemen Ayam Maggot dirancang secara vertikal agar sesuai dengan kondisi perkotaan yang minim lahan. Kandang ayam ditempatkan bertingkat, sementara di bawahnya terdapat tempat budidaya maggot yang langsung memanfaatkan kotoran ayam sebagai sumber nutrisi.
Desain tersebut membuat seluruh proses berlangsung secara alami. Telur ayam bahkan dibuat menggelinding otomatis ke tempat penampungan sehingga tidak pecah dan lebih mudah dipanen.
Saat ini fasilitas tersebut mampu mengolah hingga 300 kilogram sampah organik setiap hari. Namun produksi sampah dari warga RW 02 baru mencapai sekitar 50 hingga 75 kilogram per hari, jauh melampaui target Pemerintah Kota Bandung yang hanya menargetkan 25 kilogram sampah organik per RW setiap hari. Karena kapasitasnya masih besar, Linus membuka peluang bagi RW lain untuk ikut memanfaatkan fasilitas tersebut.
"Kami sengaja membuat kapasitas besar. Kalau ada wilayah lain yang belum memiliki pengolahan sampah organik, sampahnya bisa dibawa ke sini sehingga tidak lagi berakhir di TPA," kata dia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!