Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Bupati Magelang Resmikan Wayang Relief di Borobudur, Inovasi Budaya Angkat Warisan Candi Jadi Karya Modern

📅 Minggu, 21 Jun 2026, 02:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Bupati Magelang Resmikan Wayang Relief di Borobudur, Inovasi Budaya Angkat Warisan Candi Jadi Karya Modern Doc: Antara
Ket. Pementasan wayang relief usai diresmikan di Museum Candi Borobudur Kabupaten Magelang, Sabtu (20/6).

Magelang - Bupati Magelang Grengseng Pamuji meresmikan wayang relief karya Wito Prasetyo di Museum Candi Borobudur (MCB) Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

"Saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya dan rasa bangga yang luar biasa atas dibukanya ruang inovasi budaya melalui peluncuran wayang relief karya Bapak WitoPrasetyo," katanya di Magelang, Sabtu (20/6).

Ia menyampaikan, Kabupaten Magelang adalah bumi yang diberkahi dengan peradaban yang agung. Relief-relief yang terpahat di dinding candi, salah satunya Candi Borobudur, bukan sekadar batu mati, melainkan kitab visual yang sarat akan nilai moral, spiritual, dan tatanan kehidupan.

"Hari ini, kita menyaksikan sebuah lompatan kreativitas yang luar biasa. Bapak WitoPrasetyo telah berhasil mentransformasikan relief-relief tiga dimensi tersebut menjadi bentuk Wayang Relief yang dinamis. Lebih dari sekadar karya seni, langkah beliau mendaftarkan dan memegang resmi Hak Cipta atas Wayang Relief ini adalah sebuah edukasi besar bagi kita semua," katanya.

Menurut dia, ini adalah bukti kesadaran hukum yang tinggi bahwa aset budaya dan kekayaan intelektual lokal harus dilindungi secara legal agar tidak hilang atau diklaim oleh pihak lain.

Ia menuturkan, ini adalah contoh nyata sinergi modern. Menjaga keluhuran tradisi masa lalu, mengemasnya dengan kreativitas masa kini, dan membentenginya dengan perlindungan hukum masa depan.

"Melengkapi momentum berharga ini, kita juga akan menyaksikan pementasan dari Ki Pamedar yang akan membawakan cerita "Sasa Jataka" (KelinciBijak). Cerita Jataka ini mengajarkan kita tentang hakikat pengorbanan, ketulusan, welasasih, dan kebijaksanaan yang tinggi," katanya.

Di tengah dinamika zaman yang sering kali menggerus nilai-nilai kemanusiaan, katanya, kisah Sasa Jataka ini menjadi refleksi dan cermin yang tajam, baik sebagai pemimpin, orang tua, maupun warga masyarakat, untuk selalu mengedepankan kebajikan dan mementingkan kepentingan yang lebih besar di atas kepentingan pribadi.

Sebaiknya Anda baca juga:

"Saya berharap, wayang relief ini tidak berhenti pada acara seremoni saja. Saya menginstruksikan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Pariwisata agar karya inovatif ini dapat diperkenalkan lebih luas, baik sebagai sarana edukasi di sekolah-sekolah maupun sebagai daya tarik wisata budaya yang khas dari Kabupaten Magelang," katanya.
 

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Mengerikan! Ada Serangan Bo...

Viral! 60 Ribu Migran Maroko Nekat Masuk Spanyol, Puluhan Tewas di Perbatasan

Viral! 60 Ribu Migran Maroko Nekat Masuk Spanyol, Puluhan Tewas di Perbatasan

01 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.