Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Hilirisasi Logam Tanah Jarang Perlu Diperkuat

📅 Selasa, 08 Sep 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Hilirisasi Logam Tanah Jarang Perlu Diperkuat Doc: AFP/Kirill KUDRYAVTSEV
Ket. Sebuah wadah kaca berisi logam tanah jarang terbium (kiri) terlihat di dalam ruang penyimpanan Tradium, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan logam tanah jarang, di Frankfurt am Main, Jerman, Jumat (4/9).

Jakarta - Hilirisasi logam tanah jarang (LTJ) perlu diperkuat agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.

Peneliti sekaligus dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti menilai Badan Industri Mineral (BIM) berperan penting dalam menyiapkan kemampuan pengolahan LTJ, terutama melalui penguatan teknologi, riset, dan tata kelola.

“Tugas BIM bersifat sebagai otak dan tata kelola,” ujar Yayan di Jakarta, Senin (7/9).

Menurut dia, BIM perlu mempercepat penelitian dan pengembangan, menemukan metode pengolahan yang lebih efisien, menyusun tata kelola mineral strategis, serta menjembatani hasil riset dengan kebutuhan industri.

Khusus untuk LTJ, terdapat tiga kemampuan utama yang perlu disiapkan, yakni teknologi pemisahan yang saat ini belum dikuasai Indonesia, standar penanganan bahan radioaktif seperti torium dan uranium yang menyertai monasit, serta kemampuan pengujian dan sertifikasi kandungan LTJ.

Yayan menjelaskan hilirisasi LTJ memiliki tingkat kompleksitas tinggi karena komposisi mineralnya. Sebagian besar LTJ Indonesia merupakan hasil ikutan dari penambangan timah di Bangka Belitung.

“Nilai logam tanah jarang terpusat pada empat logam magnet, yakni neodimium, praseodimium, disprosium, terbium. Hanya sekitar 24 persen dari massa, tetapi 91 persen dari nilai (harga),” ujarnya.

Namun, Indonesia belum memiliki pabrik pemisahan untuk keempat logam tersebut. Kondisi itu menjadi salah satu tantangan utama dalam mengembangkan industri LTJ bernilai tambah tinggi di dalam negeri.

Karena itu, Yayan mendorong BIM menyiapkan teknologi pemisahan dan memperkuat riset terkait LTJ Indonesia. Menurut dia, kerja sama dengan negara atau perusahaan yang telah menguasai teknologi dapat mempercepat proses penguasaan teknologi.

“Pabrik pemisahan inilah yang selama ini tidak ada. Jalinlah kerja sama dengan pemilik teknologi, misalnya Lynas di Malaysia dan mitra India, untuk memangkas waktu belajar,” kata Yayan.

Dia meyakini penguatan BIM dapat membantu Indonesia mengatasi kendala teknologi, tata kelola, serta penanganan bahan radioaktif dalam rencana hilirisasi LTJ.

Tantangan Hilirisasi

Secara terpisah, Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Andalas Is Prima Nanda mengatakan tantangan hilirisasi mineral Indonesia saat ini bukan hanya ketersediaan sumber daya, tetapi kemampuan membangun rantai nilai terintegrasi, mulai dari pemurnian, rekayasa material, hingga manufaktur.

“Untuk naik ke produk teknologi bernilai tinggi, Indonesia perlu menguasai teknologi pemurnian, rekayasa material, desain produk, hingga proses manufakturnya. Tantangannya adalah membangun kapabilitas teknologi nasional secara utuh, bukan hanya meningkatkan kapasitas produksi,” kata Is Prima Nanda.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
  • Mentan Bidik Investasi Besar, Industri Bioetanol Nasional Mulai Digenjot
    Langkah strategis dari pemerintah pusat, khususnya melalui jaminan ...
  • Kemenperin Perkuat Kemitraan IKM Singkong dan Industri Nasional
    Langkah Kemenperin mengintegrasikan IKM olahan singkong melalui Program ...
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...
Rona
Lucasfilm Memilih Sutradara...
Luar Negeri
Peringatan dari Para Tokoh ...

Swasembada Susu Masih Terbentur Impor

22 menit yang lalu | Lukman

Ekonomi
Swasembada Susu Masih Terbe...
Ekonomi
KIH Perkuat Daya Saing Prod...

Pemkot Surabaya Siapkan Perwali untuk Lindungi Hak Mbak-mbak PRT

22 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Daerah
Pemkot Surabaya Siapkan Per...
Daerah
8 Accu Stasiun Pemantau Ana...
Advertisement
FIFA Asean Cup 2026: Drama VAR! Thom Haye Kartu Merah, Indonesia Vs Malaysia Masih 0-0 di Babak Pertama

FIFA Asean Cup 2026: Drama VAR! Thom Haye Kartu Merah, Indonesia Vs Malaysia Masih 0-0 di Babak Pertama

28 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.