Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Mayoritas UMKM Bertahan dengan Kantong Sendiri, Tantangan Besar Inklusi Keuangan

📅 Kamis, 18 Jun 2026, 18:20 WIB | Oleh: Tim Penulis
Mayoritas UMKM Bertahan dengan Kantong Sendiri, Tantangan Besar Inklusi Keuangan Doc: Koran Jakarta/ M Ismail.
Ket. Diah (kanan), pemilik merek UMKM kuliner khas Betawi, 'Ben Tjok Pulo', menjelaskan produk-produknya ke konsumen saat Bazar Jakarta Entrepreneur Kecamatan Pancoran di L'Avenue, Jakarta.

JAKARTA – Rendahnya pemanfaatan kredit perbankan oleh UMKM menunjukkan masih adanya kendala struktural dalam akses pembiayaan, seperti keterbatasan literasi keuangan, persyaratan administrasi yang dianggap rumit, serta kekhawatiran terhadap kemampuan membayar kembali.

Di sisi lain, sebagian pelaku UMKM masih bergantung pada modal internal atau sumber informal yang dinilai lebih fleksibel meski terbatas.

Kondisi ini menjadi tantangan bagi inklusi keuangan, karena optimalisasi kredit perbankan sebenarnya dapat mendorong peningkatan skala usaha, produktivitas, dan daya saing UMKM dalam jangka panjang.

Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) menyatakan bahwa sebanyak 88 persen pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) informal lebih memilih menggunakan dana pribadi dari pada kredit perbankan.

"Kalau dilihat dari survei, mereka itu (UMKM) lebih suka dengan dana sendiri," kata Ketua Bidang Riset dan Kajian Ekonomi Perbankan Perbanas Aviliani di Jakarta, Kamis (18/6).

Aviliani mengatakan bahwa penggunaan dana pribadi untuk pembiayaan oleh UMKM informal juga berpengaruh pada penyaluran kredit dari perbankan.

Ia menjelaskan beberapa tahun ini dari hasil riset Perbanas menunjukkan adanya perlambatan pertumbuhan kredit UMKM dan bahkan sempat mengalami kontraksi.

Menurut dia, dari survei Perbanas bahwa penggunaan dana pribadi pelaku UMKM mencapai 88 persen, sementara 12 menggunakan dana eksternal yaitu dari perbankan mencakup 49 persen, teman atau kerabat 9 persen, micro finance 32 persen dan lainnya 11 persen.

"Untuk dana eksternal 12 persen, sedangkan yang dana pribadi itu sebesar 88 persen," ujarnya.

Pembiayaan perbankan maupun non-bank bagi UMKM formal lanjut Aviliani juga masih termasuk kecil, di mana dari data yang ada 62 persen menggunakan dana pribadi.

"Jadi tidak hanya bank saja, non-bank pun masih kecil. Kita berharap sebenarnya dari sisi suplai itu sudah siap, tapi dari sisi demand-nya yang memang harus dibangun," katanya.

Untuk itu, Perbanas meluncurkan UMKM Center untuk meningkatkan UMKM agar dapat naik kelas dalam berbagai lini.

UMKM Center sendiri sebagai platform kolaborasi untuk membantu UMKM naik kelas melalui penguatan kapasitas usaha peningkatan akses pembiayaan, perluasan akses pasar dan akselerasi digitalisasi usaha.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Nasional
Kemenperin Dorong Gen Z Kem...
Luar Negeri
Harga Energi dan Biaya Hidu...
Megapolitan
Dana Cadangan, Pramono Usul...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.