Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Utang RI Naik, Risiko Fiskal Disorot

📅 Rabu, 17 Jun 2026, 00:52 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Utang RI Naik, Risiko Fiskal Disorot Doc: Litbang KJ/ones/and

Pengelolaan Utang

Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri (ULN) Indonesia pada April 2026 mencapai 439,8 miliar dollar AS atau tumbuh 1,9 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 1,0 persen pada Maret 2026.

Rasio ULN terhadap produk domestik bruto (PDB) tercatat sebesar 29,6 persen.

BI menyebut kenaikan itu terutama didorong oleh pertumbuhan utang sektor publik.

Posisi ULN pemerintah mencapai 216,4 miliar dollar AS atau tumbuh 3,7 persen (yoy), sementara utang luar negeri swasta masih terkontraksi 0,7 persen meski menunjukkan perbaikan dibanding bulan sebelumnya.

Pemerintah beralasan utang digunakan untuk membiayai sektor-sektor produktif seperti kesehatan, pendidikan, konstruksi, transportasi, hingga administrasi pemerintahan.

BI juga menilai arus modal asing yang masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) masih mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Meski demikian, kenaikan utang publik kembali memunculkan pertanyaan mengenai arah pembiayaan pembangunan yang semakin bergantung pada instrumen utang, terutama di tengah tekanan fiskal dan perlambatan ekonomi global.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menegaskan pemerintah dan bank sentral terus memantau perkembangan utang luar negeri agar tetap berada dalam batas yang sehat.

“Indonesia akan terus mengoptimalkan peran ULN untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian,” katanya.

Penerbitan Obligasi

Sorotan terhadap pengelolaan utang semakin menguat setelah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menerbitkan obligasi dollar AS perdana senilai 1 miliar dollar AS melalui skema Global Medium Term Notes (GMTN) yang memiliki plafon hingga 5 miliar dollar AS.

Pengamat kebijakan publik dari Fitra, Badiul Hadi, mengingatkan agar Danantara tidak bergeser dari instrumen pengelolaan aset negara menjadi kendaraan akumulasi utang baru.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Megapolitan
Waoooww….Warga Bandung ak...
Luar Negeri
Gempa Tibet Tewaskan 16 Ora...
Megapolitan
BMKG Peringatkan Hujan Leba...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.