Kompetisi Bisnis Sosial Global, Tiga Perempuan Indonesia Masuk Final, Singkirkan 1.500 Lawan
📅 Jumat, 23 Okt 2026, 13:39 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: ist
JAKARTA – Aksi luar biasa diperlihatkan tiga Wanita pengusaha asal Indonesia. Mereka mampu menjadi finalis Kompetisi Bisnis Sosial Dunia.
Tiga wirausaha perempuan Indonesia berhasil masuk menjadi finalis ajang kompetisi kewirausahaan sosial tingkat dunia, Unlock Her Future Prize 2026, yang diselenggarakan oleh jaringan pusat perbelanjaan barang mewah global, The Bicester Collection.
"Kedua belas finalis ini merupakan inspirasi bagi generasi berikutnya. Mereka masing-masing menciptakan dampak yang luar biasa bagi perempuan, anak-anak, dan generasi mendatang di komunitas mereka. Hal ini sejalan dengan misi kami di The Bicester Collection, yang memiliki 12 destinasi belanja dengan tujuan menjadikan kehidupan orang lain lebih baik," kata Chief Culture Officer The Bicester Collection, Chantal Khoueiry, dalam konferensi pers di Suzhou, Provinsi Jiangsu, Kamis (22/10/2026).
The Bicester Collection adalah perusahaan asal Inggris yang bergerak di bidang ritel mewah dan pariwisata belanja. Didirikan pada 1995, perusahaan ini mengelola 12 destinasi wisata belanja mewah terbuka (shopping villages) di London, Dublin, Paris, Brussels, Munich, Frankfurt, Milan, Madrid, Barcelona, Shanghai, Suzhou, dan New York yang dikunjungi lebih dari 50 juta orang setiap tahunnya.
Selain menyediakan pengalaman berbelanja, kuliner, dan hiburan, perusahaan ini juga menjalankan program filantropi. Salah satu inisiatif utamanya adalah Unlock Her Future Prize yang diluncurkan pada 2022 sebagai kompetisi tahunan bagi perempuan wirausaha sosial yang mengembangkan solusi berkelanjutan sesuai Sustainable Development Goals (SDGs) PBB.
Ketiga finalis dari Indonesia yang berhasil masuk dari sekitar 1.500 pendaftar pada tahun ini adalah Azalea Ayuningtyas melalui "Birufinery" yang mengolah rumput laut menjadi biostimulan untuk pertanian; Celia Siura melalui "Bumbi" yang memproduksi popok dan pembalut kain; serta Jihan Alfiyyah melalui "Her lens" yang memanfaatkan AI untuk membantu bidan melakukan pemeriksaan awal kanker serviks bagi perempuan di pedesaan.
"Melalui penelitian yang kami lakukan, kami menemukan bahwa rumput laut dapat diolah menjadi biostimulan pertanian. Dengan demikian, rumput laut yang dibudidayakan oleh masyarakat pesisir Indonesia dapat dimanfaatkan untuk membantu para petani di dalam negeri," kata CEO Birufinery, Azalea Ayuningtyas.
Birufinery adalah perusahaan rintisan (startup) berbasis di Flores dan Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang didirikan pada 2024. Perusahaan ini bergerak di bidang bioteknologi pertanian dengan fokus pada solusi biologi inovatif untuk meningkatkan produktivitas hasil panen.
"Biostimulan itu diibaratkan seperti vitamin, sedangkan pupuk adalah makanannya. Jadi, jika anak sedang susah makan, kita berikan vitamin terlebih dahulu agar nafsu makan meningkat dan nutrisinya dapat dicerna dengan baik. Kira-kira seperti itulah fungsi biostimulan," ungkap Azalea dalam wawancara khusus dengan ANTARA Beijing.
Sementara itu, Pendiri dan CEO Bumbi, Celia Siura, menjelaskan bahwa Bumbi berupaya mengatasi salah satu masalah lingkungan terbesar di dunia, yaitu sampah plastik dari popok dan pembalut sekali pakai. Saat ini, ada sekitar 14 juta bayi di Indonesia yang membutuhkan popok dan 74 juta perempuan yang membutuhkan pembalut.
"Kami ingin kembali ke kebiasaan masa lalu yang menjadi bagian dari budaya kita, yaitu menggunakan popok kain. Namun, kami merancangnya dengan desain yang menarik dan bahan yang lembut agar masyarakat bersedia beralih," kata Celia.
Ia menambahkan bahwa Bumbi juga menyediakan solusi teknologi penunjang seperti mesin cuci portabel untuk menghemat waktu dan biaya pengguna.
"Yang tidak kalah penting, produk kami diproduksi langsung oleh perempuan lokal dan penyandang disabilitas, bukan di pabrik skala besar. Kami menyadari bahwa keluarga berpenghasilan rendah kerap menjadi kelompok yang membuang popok sekali pakai ke aliran sungai," tegas Celia.
Finalis ketiga asal Indonesia adalah CEO Her Lens, Jihan Alfiyyah. Perusahaan rintisan ini didirikan bersama tim mahasiswa lintas disiplin dari Universitas Indonesia (UI) yang prihatin atas tingginya angka kematian akibat kanker serviks—penyebab kematian akibat kanker tertinggi kedua pada perempuan di Indonesia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!