Tradisi Suroan Pencak Silat Madiun Angkat Potensi Ekonomi dan Wisata Daerah
📅 Rabu, 17 Jun 2026, 17:39 WIB | Oleh: OpikMADIUN, JAWA TIMUR - Minggu siang itu, tanggal 15 Juni 2026, sehari menjelang perayaan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah atau 1 Suro dalam kalender Jawa, di Lapangan Lo Duwur, Kelurahan Nambangan Kidul, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Jawa Timur, terlihat lebih ramai dari hari biasanya.
Tenda-tenda stan jualan berdiri hampir memenuhi lapangan. Lapak-lapak dadakan yang dibangun oleh warga sekitar berderet mengelilingi lapangan dengan aneka tulisan, "jual nasi sayur", "sedia nasi jotos", "jual nasi pecel", "sedia aneka minuman es teh, kopi, air mineral", dan lainnya.
Lapangan Lo Duwur berada di kawasan pusat padepokan silat Perguruan Setia Hati Terate (PSHT). Setiap momentum Suroan, lingkungan di Jalan Merak, Kota Madiun, tersebut selalu ramai. Warga sekitar selalu disibukkan dengan datangnya para pesilat anggota PSHT dari berbagai daerah untuk mengikuti acara "Sah-sahan warga baru" (pengesahan anggota baru). Kegiatan sah-sahan tersebut bisa berlangsung hingga beberapa hari, bahkan bisa hampir satu bulan.
Selain anggota Polri yang melakukan pengamanan, warga juga beraktivitas menyediakan lapak-lapak untuk berjualan makanan dan minuman. Warga juga menyediakan tempat parkir, yang tentu semua itu merupakan pendapatan tambahan. Belum lagi, warung, toko kelontong, tempat makan, hingga hotel di sepanjang Jalan Merak dan sekitarnya juga ramai dipenuhi para pesilat yang ingin memenuhi aneka kebutuhannya.
Tidak hanya di Lapangan Lo Duwur, di Lapangan Winongo di Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, juga memiliki kesibukan sama saat momentum Suroan. Lingkungan sekitar lapangan tersebut merupakan kawasan pusat padepokan Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda (PSHW Tunas Muda) di Jalan Doho.
Sebaiknya Anda baca juga:
Setiap bulan Suro atau Muharram, mereka memiliki agenda Suran Agung, yang tahun 2026 ini digelar pada tanggal 28 Juni. Tradisi itu merupakan ajang silaturahmi, pelestarian budaya, atraksi pencak silat seni, hingga refleksi diri antara sesama anggota PSHW Tunas Muda.
Tingginya antusiasme para pesilat untuk mengikuti tradisi suroan tersebut yang jumlahnya mencapai ribuan orang, tentu memiliki manfaat ganda bagi warga sekitar. Utamanya dampak positif bagi perekonomian daerah.
Masyarakat memperoleh omzet tambahan, pedagang kaki lima dan UMKM berdenyut, kegiatan ekonomi kreatif bergeliat, bahkan hotel ikut penuh pesanan.
Sebaiknya Anda baca juga:

Sejumlah anggota pesilat anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) beraktivitas pada kegiatan Pengesahan Warga Baru 2026 dalam momentum 1 Suro atau Tahun Baru Islam 1448 Hijriah di Graha Krida Budaya kawasan pusat Padepokan PSHT Jalan Merak, Kelurahan Nambangan Kidul, Kota Madiun, Jatim, Selasa (16/6). Antara/Louis Rika
Tantangan potensi besar
Dikenal sebagai daerah basis pencak silat, hingga memiliki slogan sebagai "Kota Pendekar" (Kota Madiun) ataupun "Kampung Pesilat" (Kabupaten Madiun), daerah ini sempat "disibukkan" dengan orientasi pengamanan oleh para pemangku kepentingan. Padahal, peluang ekonomi keberadaan belasan perguruan pencak silat di Madiun itu sangat besar.
Meskipun dengan julukan kota pendekar dan kampung silat itu memiliki tingkat kerawanan tinggi, agenda Suroan yang berlangsung hingga hampir satu bulan tersebut setiap tahunnya juga memiliki efek positif jika dikelola dengan baik.
Para pemangku kepentingan akhirnya melihat peluang besar yang bisa diangkat dan dikembangkan untuk mendapatkan manfaat berkelanjutan di masa-masa mendatang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!