Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Malam Suro: Dialektika Ruang Perjumpaan Tradisi, Agama, dan Sejarah

📅 Selasa, 16 Jun 2026, 19:02 WIB | Oleh:

Festival Nasional Reog Ponorogo yang tahun ini kembali digelar dengan puluhan grup peserta menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak bertentangan dengan pertumbuhan ekonomi.

Pengakuan UNESCO terhadap Reog Ponorogo sebagai warisan budaya takbenda dunia semakin memperkuat posisi budaya lokal sebagai aset pembangunan yang bernilai tinggi. Budaya tidak lagi sekadar dipandang sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sumber daya strategis yang mampu menciptakan lapangan kerja, menarik wisatawan, dan memperkuat identitas daerah.

Persimpangan zaman

Meski demikian, tradisi Suro juga menghadapi tantangan yang tidak ringan. Modernisasi telah mengubah cara generasi muda memandang budaya. Tidak sedikit yang mengenal tradisi hanya sebagai tontonan media sosial, tanpa memahami makna di baliknya. Ritual berisiko berubah menjadi sekadar atraksi apabila nilai filosofisnya tidak diwariskan secara utuh.

Tantangan lain muncul dari kecenderungan sebagian masyarakat yang masih mengaitkan bulan Suro dengan berbagai mitos yang tidak selalu memiliki dasar historis maupun keagamaan yang kuat. Akibatnya, substansi refleksi dan pembelajaran yang seharusnya menjadi inti peringatan sering kali tertutupi oleh berbagai narasi yang kurang produktif.

Di sisi lain, peringatan 1 Suro di beberapa wilayah Jawa Timur juga kerap menuntut perhatian serius dari aspek keamanan. Kepolisian Daerah Jawa Timur bahkan memperkuat pengamanan di sejumlah daerah untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib. Langkah tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga ketenteraman publik.

Tantangan tersebut sebenarnya membuka peluang baru. Pemerintah daerah, komunitas budaya, lembaga pendidikan, hingga pelaku industri kreatif dapat bekerja sama menjadikan tradisi Suro sebagai media edukasi yang lebih menarik.

Digitalisasi budaya menjadi salah satu jalan yang patut diperkuat. Dokumentasi kirab, sejarah pusaka, filosofi wayang, hingga kisah tokoh-tokoh lokal dapat dikemas dalam bentuk film pendek, podcast, pameran virtual, maupun platform pembelajaran digital yang mudah diakses generasi muda.

Sekolah dan perguruan tinggi juga dapat memanfaatkan momentum Suro sebagai sarana pendidikan karakter. Nilai introspeksi, penghormatan terhadap alam, gotong royong, dan pelestarian warisan budaya merupakan modal sosial yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan bangsa.


Menjaga nyala

Keistimewaan Suro terletak pada kemampuannya menjembatani masa lalu dan masa depan. Ia mengingatkan bahwa kemajuan tidak harus dibangun dengan meninggalkan akar budaya. Justru bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu melangkah ke depan sambil memahami dari mana ia berasal.

Jawa Timur memberikan contoh menarik tentang bagaimana tradisi tetap hidup dalam berbagai bentuk. Dari kirab pusaka di Ponorogo, ziarah di Gunung Lawu, ritual syukur di kaki Semeru, hingga pentas wayang di Kediri, semuanya menunjukkan bahwa budaya masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat.

Yang perlu dijaga bukan hanya ritualnya, melainkan nilai yang dikandungnya. Sebab pusaka sejati bukanlah tombak, keris, atau payung yang dikirab setiap tahun. Pusaka terbesar adalah kesadaran kolektif untuk merawat identitas, menjaga harmoni dengan alam, dan memperkuat kebersamaan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Megapolitan
Transjakarta Larang Aktivit...
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.