Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

BMKG Memetakan 482 Zona Musim Masuk Kategori Kemarau Lebih Kering

📅 Rabu, 10 Jun 2026, 12:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
BMKG Memetakan 482 Zona Musim Masuk Kategori Kemarau Lebih Kering Doc: ANTARA
Ket. Deputi bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, memberikan penjelasan dalam konferensi pers "Perkembangan Musim Kemarau Indonesia 2026" di Jakarta, Rabu (10/6/2026)

JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memetakan sebanyak 482 Zona Musim (Zom) di Indonesia atau mencakup 56,18 persen luas daratan nasional diprediksi mengalami sifat musim kemarau di bawah normal atau jauh lebih kering.

Deputi bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, dalam konferensi pers "Perkembangan Musim Kemarau Indonesia 2026" di Jakarta, Rabu (10/6), menjabarkan bahwa wilayah terdampak tersebut mendominasi hampir seluruh sentra populasi dan pertanian utama di bagian selatan khatulistiwa.

"Wilayah yang diprediksi mengalami sifat musim kemarau di bawah normal, yaitu sebagian Sumatera, keseluruhan Pulau Jawa, sebagian besar Kalimantan, sebagian besar Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, dan sebagian Pulau Papua," kata dia.

Ardhasena menjelaskan bahwa karakteristik iklim di ratusan zona musim tersebut umumnya dipengaruhi oleh pola monsunal yang memiliki satu puncak musim hujan dan satu lembah musim kemarau yang sangat kontras.

Berdasarkan hasil pemutakhiran data BMKG sampai dengan akhir Mei 2026, perluasan wilayah kekeringan dimulai pada 200 zona musim (11,83 persen daratan), yang teridentifikasi lewat warna kecokelatan pada peta sebaran iklim nasional.

Pergerakan zona kering tersebut diproyeksikan melonjak drastis pada bulan Juni ini dengan memasuki 198 zona musim baru atau setara 31,6 persen luas daratan, mencakup wilayah DKI Jakarta bagian selatan hingga sebagian besar Pulau Kalimantan.

Memasuki bulan Juli, pergerakan kemarau akan kembali merambah 66 zona musim lainnya yang meliputi Jambi bagian barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan bagian timur, sebagian besar Sulawesi, hingga Maluku Utara.

Sebaliknya, BMKG mendeteksi adanya anomali lokal akibat efek topografi yang luas di tujuh zona musim (0,68 persen daratan) yang justru bersifat atas normal atau lebih basah, yakni di Bengkulu, Gorontalo bagian utara dan selatan, serta sebagian kecil Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sebaiknya Anda baca juga:

Ardhasena menyebutkan pembagian zona musim ini didasarkan pada perhitungan referensi periode normal curah hujan jangka panjang antara tahun 1991 hingga 2020 untuk menjamin akurasi data wilayah.

Oleh karena itu, BMKG meminta para pengambil kebijakan di tingkat daerah untuk mencermati peta kerawanan zona musim ini sebagai basis data utama dalam menyusun rencana kedaruratan yang spesifik di wilayah masing-masing.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
kj cup 26

Daftar Event Jakarta Akhir Pekan 25-26 Juli 2026: Pameran Seni Hingga Konser

Daftar Event Jakarta Akhir Pekan 25-26 Juli 2026: Pameran Seni Hingga Konser

24 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.