Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Ruang Fiskal Makin Banyak Terserap untuk Memenuhi Kewajiban Masa Lalu

📅 Selasa, 09 Jun 2026, 01:10 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Ruang Fiskal Makin Banyak Terserap untuk Memenuhi Kewajiban Masa Lalu Doc: istimewa
Ket. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)

JAKARTA - Tantangan terbesar kebijakan fiskal Indonesia ke depan adalah memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap memiliki daya ungkit terhadap pertumbuhan ekonomi, bukan sekadar menjaga defisit rendah dan rasio utang dalam batas aman.

Kepala Peneliti NEXT Indonesia Center Ade Holis dalam keterangannya di Jakarta, baru-baru ini mengingatkan bahwa belanja modal merupakan instrumen penting untuk meningkatkan kapasitas ekonomi, produktivitas, investasi, dan penerimaan negara di masa depan.

Apabila ruang untuk belanja modal semakin sempit, maka kemampuan APBN mendorong pertumbuhan ekonomi juga berpotensi melemah. Adapun porsi belanja modal terhadap total belanja pemerintah pusat berada dalam tren penurunan dari 16,49 persen pada 2017 menjadi hanya 8,70 persen pada APBN 2026. Penurunan tersebut terjadi ketika belanja pemerintah pusat secara keseluruhan justru terus meningkat.

Pada saat yang sama, porsi pembayaran bunga utang mengalami kenaikan. Jika pada 2017 porsinya sebesar 17,12 persen terhadap belanja pemerintah pusat, pada 2025 angkanya meningkat menjadi 21,24 persen sebelum turun menjadi 19,03 persen pada 2026.

Kondisi tersebut kata Holis menunjukkan semakin besarnya ruang fiskal yang terserap untuk memenuhi kewajiban masa lalu dibandingkan membiayai investasi produktif untuk masa depan.

Menurutnya, pemerintah juga perlu melakukan reorientasi belanja agar APBN tidak semakin defensif. Belanja yang bersifat rutin dan kurang produktif dinilai perlu dikendalikan sehingga ruang untuk investasi publik yang produktif tetap terjaga.

Hasil kajian lembaga itu menyebutkan Indonesia berada dalam kategori fiskal berkelanjutan pada periode 2017-2019. Namun kondisi tersebut terganggu pada masa pandemi Covid-19, tepatnya pada 2020 dan 2021, sehingga terjadi kontraksi ekonomi, lonjakan kebutuhan pembiayaan, serta pelebaran defisit menyebabkan posisi fiskal Indonesia keluar dari zona berkelanjutan.

Gerakkan Ekonomi

Sementara itu, peneliti ekonomi Core Indonesia, Yusuf Rendi Manilet, menegaskan bahwa keberhasilan APBN tidak bisa diukur hanya dari rendahnya defisit atau amannya rasio utang. Indikator kesehatan fiskal memang penting, tetapi bukan tujuan akhir. Hal yang krusial adalah sejauh mana anggaran mampu menggerakkan ekonomi dan memperluas basis penerimaan di masa depan.

“Ukuran keberhasilan APBN tidak bisa hanya dilihat dari rendahnya defisit atau amannya rasio utang. Keduanya memang penting sebagai indikator kesehatan fiskal, tetapi bukan tujuan akhir,” katanya.

Ia juga menyoroti tren penurunan porsi belanja modal dari 16,49 persen pada 2017 menjadi 8,70 persen dalam APBN 2026. Penurunan terjadi di tengah kenaikan total belanja negara, sehingga komposisi anggaran semakin didominasi belanja mengikat seperti pembayaran bunga utang.

“Penurunan ini menunjukkan bahwa komposisi anggaran semakin didominasi oleh belanja yang bersifat mengikat seperti bunga utang. Akibatnya, ruang fiskal untuk belanja yang secara langsung memperkuat kapasitas produksi ekonomi menjadi semakin terbatas,” katanya.

Dia pun menilai refocusing anggaran menjadi penting di tengah ruang fiskal yang sempit. Perbaikan katanya tidak selalu harus dengan menambah besaran anggaran, melainkan dengan meningkatkan kualitas alokasinya.

Anggaran, perlu diarahkan ke sektor yang memiliki efek pengganda tinggi terhadap perekonomian, seperti infrastruktur produktif, konektivitas, irigasi, dan hilirisasi industri.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...
  • Pertamina dan Jababeka Berkolaborasi Menuju Kawasan Hijau dan Nol Emisi
    Melihat tren positif pemasangan infrastruktur panel surya yang ...
  • Kemenperin Pacu Industri Halal Tembus Pasar Global Lewat Halal Indo 2026
    Langkah mendorong penyerapan 60 persen vendor lokal di ...
  • Bukan Sekadar Ekspor, Industri Pangan Indonesia Kejar Posisi di Rantai Nilai Global
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai posisi manufaktur Indonesia ...
  • Industri Besar di Kaltim Didorong Wajib Serap 60 Persen Vendor dan UMKM Lokal.
    Langkah Komisi VII DPR RI dalam mendorong regulasi ...

BPBD DKI Jakarta Lakukan Operasi Modifikasi Cuaca

27 menit yang lalu | Fajar Alim M

Megapolitan
BPBD DKI Jakarta Lakukan Op...

Banjir Bandang Melanda Solok

27 menit yang lalu | Fajar Alim M

Daerah
Banjir Bandang Melanda Solok
Daerah
Tumpukan Sampah di Gowa Mak...
Olahraga
Indonesia Lolos ke Semifina...
Advertisement
Puncak Peringatan HUT Ke-81 TNI di Monas Dibatalkan

Puncak Peringatan HUT Ke-81 TNI di Monas Dibatalkan

22 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.