Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Polusi Udara Sebabkan Jutaan Kematian Dini di Dunia

📅 Selasa, 09 Jun 2026, 23:47 WIB | Oleh: Tim Penulis
Polusi Udara Sebabkan Jutaan Kematian Dini di Dunia Doc: Antara

Jakarta - Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan polusi udara masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat global dan menyebabkan jutaan kematian dini setiap tahun, termasuk pada anak-anak.

Anggota Satuan Tugas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim (KLPI) IDAI Dr. dr. Riyadi, Sp.A. Subsp.Inf.P.T(K), M.Kes mengatakan sekitar tujuh juta orang meninggal lebih cepat dari seharusnya akibat paparan polusi udara, dengan anak-anak menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terdampak.

"Kalau kita lihat, tujuh juta manusia meninggal lebih cepat dari seharusnya karena ada polusi udara. Anak termasuk yang sangat rentan," kata Riyadi dalam dalam seminar media IDAI untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup, Selasa.

Ia menjelaskan polusi udara dapat berasal dari berbagai sumber, mulai dari emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, kebakaran hutan, hingga pembakaran bahan bakar dan sampah yang menghasilkan partikel berbahaya bagi kesehatan.

Menurut dia, anak-anak memiliki risiko lebih tinggi karena saluran pernapasan mereka masih berkembang dan sistem kekebalan tubuh belum matang sehingga lebih mudah terpengaruh oleh paparan polutan.

"Anak menjadi rentan pada polutan karena saluran udaranya lebih sempit dan sistem imunnya masih dalam proses perkembangan," ujarnya.

Riyadi mengatakan paparan polusi udara dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, seperti infeksi saluran pernapasan akut, asma, alergi, hingga penyakit kronis lainnya. Dalam jangka panjang, paparan polutan juga dapat melemahkan sistem pertahanan tubuh sehingga anak lebih mudah terserang penyakit.

Selain berdampak pada anak, polusi udara juga berisiko mengganggu kesehatan ibu hamil dan perkembangan janin. Paparan zat pencemar, termasuk logam berat dan partikel halus, dapat meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan sejak dalam kandungan.

Ia menambahkan perubahan iklim dan polusi udara saling berkaitan karena aktivitas yang menghasilkan emisi gas rumah kaca juga berkontribusi terhadap penurunan kualitas udara.

Karena itu, Riyadi menilai pengendalian polusi perlu dilakukan melalui berbagai langkah, antara lain mengurangi emisi kendaraan, meningkatkan penggunaan transportasi ramah lingkungan, menghindari pembakaran sampah, serta memperluas ruang hijau di kawasan perkotaan.

"Bumi yang sehat artinya kita juga sehat. Dampak lingkungan yang tidak baik akan dirasakan oleh seluruh kelompok usia, termasuk anak-anak yang menjadi kelompok paling rentan," katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar

Timothy Ivan Triyono Mundur dari Bakom RI

56 menit yang lalu | Lili Lestari

Nasional
Timothy Ivan Triyono Mundur...
Luar Negeri
AS Kirim Dua Jet Tempur F-1...
Advertisement
7 Event Jakarta Akhir Pekan 3-4 Oktober: Ada Indonesia Comic Con hingga JICAF 2026

7 Event Jakarta Akhir Pekan 3-4 Oktober: Ada Indonesia Comic Con hingga JICAF 2026

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.