Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pusaran Harga Sewa Tak Terkendali, Jutaan Warga Jerman Terancam Krisis Ekonomi

📅 Sabtu, 06 Jun 2026, 13:12 WIB | Oleh:
Pusaran Harga Sewa Tak Terkendali, Jutaan Warga Jerman Terancam Krisis Ekonomi Doc: Matthias Balk/Getty Images

BERLIN - Hampir tujuh juta rumah tangga penyewa di Jerman terbebani oleh biaya tempat tinggal, menurut studi yang dilakukan Asosiasi Penyewa Jerman dan dirilis pada Rabu (3/6).

Jumlah tersebut setara dengan sekitar sepertiga dari seluruh rumah tangga penyewa di negara itu. Sekitar 3,2 juta di antaranya menghabiskan lebih dari 40 persen pendapatan bersih mereka untuk membayar biaya tempat tinggal.

Beban tersebut terutama dirasakan oleh penyewa berpenghasilan rendah. Dari hampir 20 juta rumah tangga penyewa di Jerman, sebanyak 42 persen atau sekitar 8,3 juta rumah tangga berada dalam kelompok sepertiga terbawah dalam persebaran pendapatan. Kelompok ini memiliki rata-rata pendapatan rumah tangga bersih bulanan sebesar 1.417 euro atau sekitar 1.642 dolar AS . Menurut studi tersebut, kelompok ini telah mencapai "batas kemampuan finansial" akibat biaya tempat tinggal.

Analisis dalam studi ini didasarkan pada data pendapatan dan sewa dari mikrosensus terbaru yang dilakukan pada 2022. Data tersebut diperbarui menggunakan data terbaru tahun 2024 yang tersedia dari Kantor Statistik Federal Jerman.

Studi itu menemukan bahwa kenaikan harga sewa meningkatkan beban biaya perumahan bagi banyak rumah tangga, terutama mereka yang baru berpindah tempat tinggal.

"Tarif sewa dalam kontrak yang ditandatangani sejak 2020 dan setelahnya rata-rata sekitar 21 persen lebih tinggi dibandingkan kontrak sewa yang lebih lama," menurut studi itu. Disebutkan pula bahwa rumah tangga yang mulai menempati hunian sejak 2020 dan setelahnya menghadapi beban biaya tempat tinggal yang jauh lebih tinggi, di angka 33 persen, dibandingkan rumah tangga yang mulai menempati hunian sebelum 2020.

Dampaknya terlihat paling nyata di kota-kota besar. Di Berlin, tarif sewa yang dibayarkan oleh rumah tangga yang mulai menempati hunian sejak 2020 dan setelahnya rata-rata 29 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata perjanjian sewa di negara itu.

Menurut studi tersebut, kesenjangan yang semakin lebar antara tarif sewa lama dan baru di wilayah metropolitan menciptakan "efek penguncian" (lock-in effect), yang membuat penyewa dengan kontrak sewa lebih rendah enggan pindah.

"Pusaran harga sewa yang terus meningkat harus dihentikan. Pemerintah federal harus memberlakukan rencana sanksi yang lebih berat terhadap praktik penarikan biaya sewa yang terlalu tinggi, memperkuat aturan pengendalian sewa, dan menjatuhkan denda yang signifikan bagi pelanggar, sehingga para penyewa akhirnya terlindungi dari kenaikan sewa yang melanggar hukum," kata Presiden Asosiasi Penyewa Jerman Melanie Weber-Moritz. Ant

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
  • Sangat Memprihatinkan Rumah Dinas TNI untuk Judol, Pelaku Kini Ditahan
    oknum2 begini ini yg bikin citra loreng jadi ...
Olahraga
Jadwal Lengkap Liga Champio...
Advertisement
Sejarah Besar! Akhirnya Ada Orang Indonesia yang Berlaga di Liga Champions!!!

Sejarah Besar! Akhirnya Ada Orang Indonesia yang Berlaga di Liga Champions!!!

13 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.