Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Penurunan PMI Manufaktur Tiongkok bisa Koreksi Target Pertumbuhan RI

📅 Rabu, 03 Jun 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi

Untuk meredam risiko itu, Suhartoko menekankan pentingnya diversifikasi negara asal impor. Dengan begitu, pengaruh penurunan ekspor Tiongkok tidak berdampak besar ke industri nasional.

“Diversifikasi pemasok bahan baku jadi kunci agar rantai pasok industri Indonesia tetap aman meski manufaktur Tiongkok bergejolak,” tutup Suhartoko.

Kebijakan Tambahan

Biro Statistik Nasional Tiongkok atau National Bureau of Statistics of China (NBS) dan Federasi Logistik dan Pembelian Tiongkok sebelumnya melaporkan aktivitas manufaktur negara Tirai Bambu itu melemah pada Mei 2026, seiring dengan masa liburan dan tekanan dari biaya input yang lebih tinggi, sehingga membebani produksi.

Indeks pembelian manufaktur atau Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Tiongkok resmi turun menjadi 50,0 pada bulan Mei dari 50,3 pada bulan April. Angka tersebut sesuai dengan ambang batas 50 poin yang memisahkan ekspansi dari kontraksi dan sejalan dengan ekspektasi para ekonom.

Sementara itu, PMI non-manufaktur, yang mengukur aktivitas di sektor konstruksi dan jasa, naik menjadi 50,1 dari 49,4 pada bulan April, kembali ke wilayah ekspansi dan melampaui perkiraan pasar.

Data terbaru itu menambah indikasi bahwa momentum ekonomi Tiongkok telah melambat, setelah awal tahun yang kuat. Indikator ekonomi yang dirilis untuk bulan April menunjukkan pertumbuhan yang lebih lemah dalam produksi industri dan penjualan ritel, yang memicu seruan untuk dukungan kebijakan tambahan.

Merespon perlambatan aktivitas ekonomi, pemerintah Tiongkok telah memperkenalkan serangkaian langkah yang bertujuan untuk mendukung pertumbuhan. Awal bulan ini, Bank Rakyat Tiongkok menurunkan suku bunga pinjaman kebijakan satu tahun kepada bank-bank ke level terendah sepanjang sejarah.

Beijing juga telah mengumumkan rencana untuk memperluas akses ke layanan publik, termasuk perawatan kesehatan dan pendidikan, bagi pekerja migran sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk mendukung konsumsi dan meningkatkan standar hidup.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
  • Mentan Bidik Investasi Besar, Industri Bioetanol Nasional Mulai Digenjot
    Langkah strategis dari pemerintah pusat, khususnya melalui jaminan ...
  • Kemenperin Perkuat Kemitraan IKM Singkong dan Industri Nasional
    Langkah Kemenperin mengintegrasikan IKM olahan singkong melalui Program ...
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...
  • Pertamina dan Jababeka Berkolaborasi Menuju Kawasan Hijau dan Nol Emisi
    Melihat tren positif pemasangan infrastruktur panel surya yang ...

Hari Ini Indonesia Berharap Pecah Telor untuk Medali Emas

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Hari Ini Indonesia Berharap...
Advertisement
Mentan Amran Berang, Sebut Masuknya Beras Ilegal Khianati Kerja Keras 115 Juta Petani Indonesia

Mentan Amran Berang, Sebut Masuknya Beras Ilegal Khianati Kerja Keras 115 Juta Petani Indonesia

24 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.