Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Keluh Kesah Perajin Tahu Menolak Menyerah di Tengah Melangitnya Harga Kedelai

📅 Minggu, 31 Mei 2026, 11:37 WIB | Oleh:
Keluh Kesah Perajin Tahu Menolak Menyerah di Tengah Melangitnya Harga Kedelai Doc: ANTARA/Sutarmi.
Ket. Perajin tahu di Kalurahan Tuksono, Kabupaten Kulon Progo, DIY, tetap berproduksi meski harga kedelai naik.

KULON PROGO - Di sudut-sudut Kalurahan Tuksono, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, saat kabut pagi masih memeluk lereng-lereng perbukitan, suara mesin penggilingan kedelai telah lebih dulu menderu.

Deru mesin itu adalah sebuah simfoni kehidupan, sebuah nyanyian konstan yang tetap bersahutan di tengah riuhnya pasar yang kian mencekik.

Meski harga kedelai yang menjadi bahan baku utama dari tahu-tahu yang mereka produksi telah melonjak menembus angka Rp10.700 per kilogram, para perajin di desa itu tetaplah serupa akar pohon yang menghujam bumi; teguh meski diterpa badai yang tak kunjung usai.

Bagi mereka, kenaikan harga bukan sekadar angka di atas kertas. Ia adalah beban yang menghimpit, sebuah ujian kesabaran yang datang bersamaan dengan melambungnya harga minyak goreng dan kayu bakar. Namun, di dapur-dapur produksi yang hangat oleh uap air, tidak ada keluh kesah yang meluap menjadi amarah. Yang ada hanyalah kepasrahan yang dibalut dengan keteguhan hati.

Mereka adalah para penjaga tradisi yang menolak untuk mematikan tungku, meski margin keuntungan mereka kian hari kian menipis, seolah tersapu oleh arus zaman yang tak ramah.

Afi, seorang perajin tahu yang telah lama menggantungkan harapannya pada putihnya sari kedelai, menatap masa depan dengan sorot mata yang teduh namun waspada.

Baginya, kenaikan harga bahan baku adalah riak kecil dalam samudra kehidupan usaha yang telah ia jalani bertahun-tahun. Ketakutannya bukanlah pada harga, melainkan pada gempuran persaingan yang kian sengit, di mana tahu-tahu dari tanah lain datang menjajakan diri dengan harga yang lebih ramah. Namun, ia tak lantas menyerah.

"Sekarang yang penting bertahan, usaha tetap jalan," katanya dengan suara setengah berbisik. Dia menyampaikan sebuah kalimat sederhana yang memikul beban tanggung jawab bagi banyak keluarga yang bergantung pada usahanya.

Di balik tembok

Mubari, Ketua Tahu Nunggal Roso, menyatakan perajin yang tergabung dalam organisasi itu merajut asa di tengah dilema yang mencekam.

Ia menuturkan bagaimana harga kedelai yang merayap naik hingga Rp11.000 per kilogram terasa seperti tekanan yang menghimpit napas. Mereka terjebak dalam simalakama; menaikkan harga berarti kehilangan pelanggan, namun membiarkan harga tetap berarti memakan modal sendiri.

Namun, cinta pada pekerjaan tak membiarkan mereka berhenti.

Mereka bersiasat dengan kelembutan yang penuh perhitungan. Mereka memilih mengurangi ketebalan tahu beberapa milimeter, sebuah pengorbanan kecil agar dapur mereka tetap mengepul dan masyarakat tetap bisa menikmati protein terjangkau di meja makan mereka.

Mereka memperketat proses produksi, memungut setiap tetes sari kedelai agar tak ada yang terbuang sia-sia. Bahkan, hasil sampingan seperti ampas tahu diolah dengan kasih sayang agar menjadi pakan ternak atau tempe gembus yang memberikan sedikit napas bagi sisa hari.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

KPPU Desak Revisi UU Antimonopoli

1.5 jam yang lalu | Lukman

Nasional
KPPU Desak Revisi UU Antimo...
Luar Negeri
Cuaca Panas El Nino Tingkat...
Nasional
Perampingan BUMN Diminta Fo...
Porprov NTB 2026: 4.860 Atlet Bersiap Masuk Radar PON 2028

Porprov NTB 2026: 4.860 Atlet Bersiap Masuk Radar PON 2028

16 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.