Bukan Sekadar Fundamental, Pasar Menguji Kredibilitas dan Konsistensi Kebijakan Pemerintah
📅 Jumat, 29 Mei 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim RedaksiPelemahan rupiah jelasnya membuat belanja negara membengkak, khususnya pada subsidi energi, pembayaran utang luar negeri, dan pos lain yang berbasis dollar AS.
“Swasta pun terdampak jika menggunakan bahan baku impor dan utang luar negeri,” katanya.
Untuk meredam hal itu, dia meminta Pemerintah menghindari pernyataan yang blunder di ruang publik. Selain itu, untuk menahan laju pelemahan yakni menjaga suku bunga tetap tinggi untuk sementara dan menjaga disiplin fiskal agar anggaran lebih terarah.
Anggaran perlu didorong ke kegiatan produktif yang bisa menghasilkan pendapatan, meski tidak lagi bergantung penuh pada dana APBN.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Achmad Maruf menilai pelemahan rupiah tidak bisa hanya dilihat sebagai mekanisme penyesuaian pasar semata, melainkan juga mencerminkan kerentanan struktur ekonomi domestik yang masih bergantung pada impor dan tekanan eksternal.
Menurut Achmad, tekanan terhadap rupiah akan lebih mudah terjadi ketika fondasi produksi dalam negeri belum cukup kuat, terutama pada sektor energi dan bahan baku industri. Dalam kondisi seperti itu, gejolak global akan cepat memengaruhi nilai tukar dan harga barang di dalam negeri.
“Masalahnya bukan sekadar kurs naik atau turun, tetapi ketahanan ekonomi domestiknya. Selama ketergantungan impor masih tinggi, tekanan global akan mudah masuk ke dalam negeri,” kata Maruf.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pelemahan rupiah dalam jangka panjang katanya bisa berdampak langsung terhadap biaya produksi dan daya beli masyarakat karena banyak kebutuhan industri dan konsumsi masih terkait barang impor. Menurutnya, kondisi ini perlu direspons lewat penguatan sektor riil, bukan hanya menjaga stabilitas pasar keuangan.
Dia pun meminta Pemerintah mempercepat penguatan industri domestik dan mengurangi kebergantungan terhadap impor agar ekonomi nasional tidak terlalu rentan setiap kali terjadi tekanan global maupun gejolak nilai tukar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!