Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Antikythera Mechanism, Komputer Pertama Yunani Kuno

📅 Kamis, 28 Mei 2026, 07:18 WIB | Oleh:

Bagi masyarakat modern, kemampuan seperti itu terdengar seperti fungsi kalkulator astronomi atau komputer sederhana. Bedanya, alat ini dibuat lebih dari dua ribu tahun sebelum lahirnya komputer elektronik.

Matematikawan dan peneliti Antikythera dari University College London, Tony Freeth, menjelaskan bahwa mekanisme itu bekerja seperti model miniatur alam semesta. Pengguna cukup memutar engkol untuk “menggerakkan waktu,” lalu roda-roda gigi di dalamnya akan menghitung posisi benda-benda langit secara otomatis.

Di bagian depan terdapat dial zodiak yang dibagi menjadi dua belas bagian, mewakili konstelasi zodiak. Sementara di bagian belakang terdapat sistem penanggalan dan indikator siklus astronomi yang sangat kompleks. Ketika para ilmuwan akhirnya memahami fungsi perangkat tersebut, mereka bukan hanya kagum mereka tercengang.

Pengetahuan Langit

Kecanggihan Antikythera Mechanism tidak muncul begitu saja. Mesin itu merupakan hasil dari perjalanan panjang pengetahuan manusia tentang langit.

Jauh sebelum Yunani menjadi pusat filsafat dan sains, bangsa Babilonia telah mengembangkan astronomi yang sangat maju. Mereka mengamati gerak planet, mengenali pola gerhana, dan membagi jalur Matahari menjadi dua belas bagian zodiak. Pengetahuan itu kemudian memengaruhi dunia Yunani.

Tokoh seperti Cleostratus dari Tenedos diyakini membawa konsep zodiak dari Babilonia ke Yunani pada abad ke-6 SM. Namun perkembangan astronomi Yunani mencapai bentuk yang lebih radikal melalui para filsuf Ionia seperti Thales dari Miletos, Anaximandros, dan Anaximenes. Mereka mulai mempertanyakan cara lama memahami alam semesta.

Sebelum masa mereka, masyarakat Yunani menjelaskan segala sesuatu melalui mitologi. Petir dianggap kemarahan Zeus. Musim berganti karena kisah dewi Demeter dan Persephone. Langit dipenuhi campur tangan para dewa.

Para filsuf Ionia menawarkan gagasan baru yang revolusioner: alam semesta bekerja mengikuti hukum-hukum tertentu yang bisa dipahami manusia. Mereka tidak menolak keberadaan dewa-dewa, tetapi menolak gagasan bahwa seluruh fenomena alam terjadi karena emosi para dewa.

Bagi mereka, alam semesta adalah kosmos tatanan yang teratur, rasional, dan dapat dijelaskan melalui pengamatan. Cara berpikir inilah yang kemudian menjadi fondasi ilmu pengetahuan modern.

Awal Astronomi Yunani

Salah satu tokoh paling penting dalam perubahan cara berpikir itu adalah Thales dari Miletos. Ia dikenal sebagai filsuf, matematikawan, sekaligus astronom pertama Yunani kuno. Thales diyakini pernah belajar di Babilonia dan mungkin juga Mesir. Dari pengamatan astronomi yang ia lakukan, Thales disebut berhasil memprediksi gerhana Matahari pada 28 Mei 585 SM—sebuah pencapaian luar biasa untuk zamannya. Walaupun karya-karya aslinya tidak bertahan hingga sekarang, pengaruh Thales sangat besar. hay

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Data Biometrik SIM Benarkah Mampu Meningkatkan Keamanan

38 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Rona
Data Biometrik SIM Benarkah...
Daerah
Perilaku Konsumtif dan Kebi...
Update Klasemen Sementara Piala Dunia 2026: Kolombia dan Inggris Memimpin di Grup K dan L

Update Klasemen Sementara Piala Dunia 2026: Kolombia dan Inggris Memimpin di Grup K dan L

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.