Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Setelah BI Rate Naik, Struktur Pasar Uang dan Obligasi Domestik Harus Diperbaiki

📅 Jumat, 22 Mei 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2026, BI-Rate diputuskan naik sebesar 50 bps dari 4,75 persen menjadi 5,25 persen. Suku bunga deposit facility diputuskan untuk naik 50 bps sehingga pada level 4,25 persen. Begitu pula suku bunga lending facility yang diputuskan untuk naik 50 bps sehingga pada level 6 persen.

Terpisah, pengamat ekonomi dari STIE YKP Yogyakarta Aditya Hera Nurmoko menilai kenaikan BI-Rate 50 bps menunjukkan bank sentral sedang berupaya menjaga kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global yang semakin berat. Menurutnya, langkah agresif tersebut menandakan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak lagi bisa dipandang sebagai gejolak jangka pendek biasa.

“Dalam kondisi seperti sekarang, bank sentral memang perlu menunjukkan respons yang tegas agar pasar melihat bahwa stabilitas makroekonomi tetap menjadi prioritas. Kalau respons terlalu lambat, tekanan terhadap nilai tukar bisa semakin besar dan memicu kepanikan di pasar keuangan,” kata Aditya.

Keputusan menaikkan suku bunga acuan juga berkaitan dengan meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik dan penguatan dolar AS yang membuat arus modal asing cenderung keluar dari negara berkembang. Menurutnya, langkah BI merupakan upaya untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik sekaligus meredam tekanan inflasi impor yang berpotensi meningkat akibat pelemahan rupiah.

Sementara itu, Dosen Magister Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko mengatakan kenaikan suku bunga acuan sebagai langkah yang diperlukan untuk meredam tekanan pada nilai tukar rupiah yang melemah akibat ketidakpastian ekonomi global.

“Dalam situasi perekonomian global yang penuh ketidakpastian yang menyebabkan ketidakstabilan atau bahkan melemahnya nilai tukar jangka pendek, BI harus kembali ke target kebijakan utama, yaitu stabilnya nilai tukar,” kata Suhartoko.

Jika pelemahan rupiah tersebut tidak segera ditangani, maka akan berdampak kontraksi sektor lain yang terpapar impor dan tentu pada risiko nilai tukar.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

AISMOLI: Kenaikan Harga BBM Peluang Percepatan Adopsi EV

31 menit yang lalu | Bambang Wijanarko

Ekonomi
AISMOLI: Kenaikan Harga BBM...
  • Modus Canggih di Jepang: Eks Insinyur Racik Program Sendiri Demi Gasak Jutaan Yen
    Preview komentar:
    Hubungi nomor 082178509155 Atau 1500001 (layanan khusus untuk ...
    Anda dapat menghubungi layanan support (Tokocrypto) melalui nomor ...
  • Instruksi Prabowo Dijalankan! PKP Siapkan Rusun Subsidi di Kota-Kota Jatim
    Preview komentar:
    Berikut Nomor Whatsapp Resmi Tokocrypto adalah +62 818-898-300, ...
    Perlu di ingat, Saluran resmi Tokocrypto, hanya di ...
  • Rp2,2 Triliun Digelontorkan! Kementerian PKP Kebut Bangun Huntap Pascabencana di Sumatera
    Preview komentar:
    Sedih ya, teman-teman... Saluran resmi (Bri QLola) hanya ...
    Saluran resmi (Bri QLola) hanya bisa dihubungi di ...
Kenaikan BI Rate tak Boleh Ganggu Kredit ke Sektor UMKM

Kenaikan BI Rate tak Boleh Ganggu Kredit ke Sektor UMKM

19 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.