Arsenal Akhiri Dominasi Panjang Manchester City
📅 Kamis, 21 Mei 2026, 06:54 WIB | Oleh: Benny Mudesta PutraLONDON - Penantian panjang selama 22 tahun berakhir. Arsenal resmi kembali menjadi penguasa sepak bola Inggris setelah hasil imbang 1-1 Manchester City di kandang Bournemouth, Rabu (20/5) dini hari WIB. Hasil ini memastikan klub London Utara itu mengunci gelar Liga Inggris 2025-2026.
Di sekitar Stadion Emirates, ribuan suporter larut dalam euforia. Asap merah dari flare memenuhi udara malam London Utara. Lagu “Campeones” bergema di tribun, sementara nama Mikel Arteta diteriakkan tanpa henti. Arsenal akhirnya menanggalkan cap sebagai tim yang selalu gagal di tikungan terakhir perburuan gelar.
Trofi ini menjadi gelar liga ke-14 Arsenal sekaligus yang pertama sejak era legendaris “Invincibles” racikan Arsene Wenger pada musim 2003-2004. Lebih dari sekadar juara, keberhasilan ini merupakan simbol kemenangan atas trauma panjang yang menghantui klub selama dua dekade terakhir.
Empat tahun lalu, Arsenal masih berada jauh dari level juara. Mereka finis 24 poin di belakang Manchester City dan gagal lolos ke Liga Champions setelah disalip rival abadi Tottenham Hotspur pada pekan terakhir musim 2021-2022. Saat itu, banyak pendukung mulai meragukan kemampuan Arteta membawa Arsenal keluar dari keterpurukan.
Keraguan tersebut bukan tanpa alasan. Arsenal sempat menjadi simbol kemunduran klub besar Inggris. Setelah era keemasan Wenger, klub perlahan kehilangan identitas. Kepindahan dari Highbury ke Emirates Stadium pada tahun 2006 disebut menggerus kekuatan finansial Arsenal sehingga tertinggal dari rival-rival kaya raya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada musim perpisahan Wenger tahun 2018, Arsenal finis di posisi keenam, pencapaian terburuk mereka sejak 1995. Situasi semakin memburuk di era Unai Emery. Arsenal gagal kembali ke Liga Champions dan dikalahkan Chelsea di final Liga Europa sebelum Emery dipecat pada bulan November 2019.
Di tengah kekacauan itu, Arteta datang membawa proyek besar. Mantan kapten Arsenal yang sempat menjadi asisten Pep Guardiola di Manchester City tersebut mewarisi skuad rapuh yang kehilangan arah dan mentalitas pemenang.
Dia langsung melakukan perubahan drastis. Arteta menyingkirkan pemain-pemain yang dianggap mengganggu harmoni ruang ganti. Pierre-Emerick Aubameyang dicoret dari tim utama, sementara Mesut Ozil dilepas demi membangun kultur baru yang lebih disiplin dan kolektif.
Sebaiknya Anda baca juga:
Awal kepemimpinannya berjalan menyakitkan. Arsenal dua kali finis di posisi kedelapan dan tekanan agar Arteta dipecat semakin keras. Namun manajemen tetap memberi dukungan penuh terhadap proyek jangka panjang sang pelatih.
Kepercayaan itu perlahan membuahkan hasil. Arteta membangun Arsenal dengan identitas yang jelas. Mereka bermain agresif, disiplin, dan memiliki intensitas tinggi. Arsenal bukan lagi tim rapuh yang mudah kehilangan kendali di momen penting.
Meski demikian, proses menuju juara tetap dipenuhi luka. Pada musim 2022-2023, Arsenal sempat unggul delapan poin sebelum akhirnya disalip Manchester City. Setahun kemudian, mereka kembali gagal setelah kalah bersaing hingga pekan terakhir. Musim lalu, Arsenal bahkan harus rela finis kedua dengan selisih 10 poin di belakang Liverpool.
Dalam periode itulah label “nearly men” atau tim yang selalu nyaris juara melekat kuat pada Arsenal. Mereka dianggap tidak cukup kuat secara mental untuk memenangkan kompetisi terbesar.
Namun Arteta tidak pernah kehilangan keyakinan. Pelatih asal Spanyol itu pernah mengibaratkan proyek Arsenal seperti perjalanan menuju pusat latihan London Colney. ben/AFP/G-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!