Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Muslim Pro Sebut Haji dan Umrah Jadi Aspirasi Utama Gen Z dan Milenial

📅 Rabu, 20 Mei 2026, 14:40 WIB | Oleh:
Muslim Pro Sebut Haji dan Umrah Jadi Aspirasi Utama Gen Z dan Milenial Doc: Istimewa
Ket. Data terbaru dari Muslim Pro menunjukkan ibadah Haji dan Umrah kini semakin dipandang sebagai bagian dari aspirasi hidup generasi muda Muslim Indonesia. Perubahan tersebut terlihat dari meningkatnya minat terhadap fitur perencanaan ibadah berbasis digital, terutama di kalangan usia produktif.

JAKARTA - Data terbaru dari Muslim Pro menunjukkan ibadah Haji dan Umrah kini semakin dipandang sebagai bagian dari aspirasi hidup generasi muda Muslim Indonesia. Perubahan tersebut terlihat dari meningkatnya minat terhadap fitur perencanaan ibadah berbasis digital, terutama di kalangan usia produktif.

Berdasarkan survei Muslim Pro terhadap pengguna di Indonesia pada April 2025, sebanyak 81 persen responden memilih kemudahan perencanaan Haji, Umrah, atau zakat sebagai fitur yang paling diinginkan dalam layanan tabungan berbasis syariah. Di kelompok usia 23–39 tahun, permintaan terhadap fitur perencanaan religi, termasuk persiapan Haji, mencapai 66 persen dan menjadi fitur digital paling diminati dibanding kelompok usia lain.

Muslim Pro sendiri dikenal sebagai salah satu platform gaya hidup Muslim terbesar di dunia dengan lebih dari 190 juta unduhan secara global. Perusahaan melihat adanya perubahan perilaku generasi muda Muslim dalam memandang perjalanan spiritual dan tujuan hidup.

Fenomena tersebut juga sejalan dengan meningkatnya penggunaan teknologi digital di Indonesia. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 221,5 juta orang pada 2024 atau sekitar 79,5 persen dari total populasi nasional.

Bagi generasi muda Muslim yang tumbuh di era digital, ruang daring kini tidak hanya digunakan sebagai sarana hiburan atau interaksi sosial. Platform digital juga mulai dimanfaatkan sebagai ruang pembelajaran agama, refleksi diri, hingga perencanaan tujuan hidup jangka panjang.

Perubahan tersebut turut memengaruhi cara generasi muda memaknai kesuksesan. Jika sebelumnya pencapaian hidup sering dikaitkan dengan aset, karier, atau status sosial, kini semakin banyak anak muda yang menempatkan pengalaman spiritual sebagai bagian penting dalam perjalanan hidup mereka.

Bagi sebagian generasi muda Muslim Indonesia, Haji dan Umrah tidak lagi dipandang sebagai ibadah yang dilakukan setelah mapan secara ekonomi. Ibadah tersebut kini mulai dilihat sebagai cita-cita hidup yang ingin diwujudkan sejak usia muda.

Group Managing Director dan CEO Muslim Pro, Nafees Khundker, mengatakan terdapat perubahan perilaku signifikan dalam cara generasi muda membicarakan aspirasi spiritual mereka.

"Kami melihat adanya perubahan perilaku yang signifikan. Anak muda Muslim saat ini jauh lebih terbuka dalam membicarakan aspirasi spiritual mereka dibandingkan generasi sebelumnya. Keinginan untuk menunaikan ibadah Haji atau Umrah di usia muda kini semakin dipandang sebagai bagian dari tujuan hidup personal," ujar Nafees.

Tren tersebut juga didukung perkembangan ekonomi Islam global. Berdasarkan State of the Global Islamic Economy Report 2024/25, sektor perjalanan ramah Muslim menjadi sektor dengan pertumbuhan tercepat dalam ekonomi Islam dunia dengan proyeksi pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 12,1 persen dan nilai pasar mencapai 384 miliar dolar AS pada 2028.

Laporan yang sama menempatkan Indonesia di peringkat ketiga global dalam indikator ekonomi Islam secara keseluruhan serta posisi kedua dunia untuk sektor pariwisata ramah Muslim. Hal itu memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara penting dalam perkembangan ekonomi halal global.

Meski demikian, kesiapan finansial untuk menjalankan ibadah Haji dan Umrah masih menjadi tantangan besar. Survei Muslim Pro menunjukkan sebanyak 65 persen responden mengaku jarang atau bahkan belum pernah menyisihkan dana khusus untuk Haji maupun Umrah.

Pada kelompok pengguna berpenghasilan rendah hingga menengah, angka tersebut bahkan mencapai 62 hingga 72 persen. Sebanyak 83 persen responden yang mengalami kesulitan menabung menyebut keterbatasan finansial dan pendapatan yang tidak stabil sebagai hambatan utama.

Menurut Nafees, tantangan terbesar sebenarnya bukan terletak pada niat, melainkan belum adanya sistem yang membantu masyarakat menabung secara konsisten dan realistis untuk tujuan ibadah jangka panjang.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Piala Dunia, Tim-tim Favorit Lolos ke Fase Gugur  

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Piala Dunia, Tim-tim Favori...
PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 7
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
📅 Selasa, 23-Jun-2026
# 7
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
📅 Selasa, 23-Jun-2026
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.