Rupiah Hari Ini Kembali Melemah, Harga Minyak Dunia Jadi Ancaman Baru
📅 Selasa, 19 Mei 2026, 17:05 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Pelemahan rupiah di tengah tren kenaikan harga minyak dunia mencerminkan meningkatnya tekanan eksternal terhadap perekonomian domestik.
Kenaikan harga minyak berpotensi memperbesar kebutuhan impor energi Indonesia, sehingga permintaan valuta asing, terutama dolar AS, ikut meningkat. Kondisi ini dapat memperlebar defisit neraca perdagangan migas dan menekan stabilitas nilai tukar rupiah.
Di sisi lain, lonjakan harga minyak juga memicu kekhawatiran terhadap inflasi, terutama dari kenaikan biaya transportasi dan logistik.
Jika tekanan berlanjut, ruang kebijakan moneter menjadi semakin terbatas karena otoritas harus menjaga keseimbangan antara stabilitas rupiah dan momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Nilai tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan, Selasa (19/5), melemah 38 poin atau 0,22 persen jadi Rp17.706 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.668 per dolar AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menilai pelemahan rupiah seiring tren kenaikan harga minyak dunia yang masih di atas 100 dolar AS per barel.
“Rupiah pada perdagangan hari ini melemah dipengaruhi oleh faktor domestik menanti hasil RDG BI (Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia) akan diumumkan besok dan ruang fiskal yang masih terbatas akibat subsidi yang membengkak seiring tren kenaikan harga minyak dunia yang masih di atas 100 dollar,” ujarnya di Jakarta.
Mengutip Anadolu, stok minyak komersial menurun dengan cepat seiring persediaan yang tersisa hanya untuk sejumlah pekan akibat dampak konflik di Timur Tengah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pelepasan cadangan strategis yang diputuskan pada Maret 2026 telah menyediakan 2,5 juta barel per hari, tetapi cadangan tersebut tetap terbatas.
Peningkatan kehilangan pasokan dari Selat Hormuz mengurangi persediaan minyak global dengan cepat, dan volatilitas harga lebih lanjut berpotensi terjadi.
RDG BI sendiri diperkirakan akan memutuskan kenaikan suku bunga acuan 25 basis points (bps) menjadi 5 persen.
“Dengan asumsi kurs di APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) Rp16.500 maka tambahan subsidi Rp150 triliun dengan kurs yang terus meningkat dan tidak ada kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak) subsidi,” kata Rully.
Adapun sentimen lainnya berasal dari tren kenaikan ekspektasi inflasi dan yield obligasi pemerintah AS yang masih terus berlanjut.
Kenaikan ekspektasi inflasi AS ini meningkatkan tingkat imbal hasil atau yield obligasi AS. Tercatat, yield obligasi pemerintah AS untuk tenor 2 tahun di 4,105 persen, 10 tahun di 4,631 persen, dan 30 tahun di 5,159 persen. Peningkatan ini menjadi level tertinggi baru untuk tahun 2026.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!