Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Laporan Safe-Agent: Perusahaan Belum Siap Hadapi Risiko AI Otonom

📅 Sabtu, 16 Mei 2026, 22:12 WIB | Oleh:
Laporan Safe-Agent: Perusahaan Belum Siap Hadapi Risiko AI Otonom Doc: Osher Digital
Ket. Ilustrasi AI otonom. Zentara Labs merilis laporan Safe-Agent yang menyoroti meningkatnya risiko keamanan siber dan tantangan tata kelola akibat penggunaan AI otonom di Indonesia.

JAKARTA — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang semakin otonom dinilai memunculkan tantangan baru di bidang keamanan siber dan tata kelola perusahaan. Kondisi ini terungkap dalam laporan terbaru yang dirilis oleh Zentara Labs berjudul Safe-Agent: An Agentic AI Security Framework for the Enterprise and Public Sector.

Laporan tersebut menyoroti meningkatnya penggunaan sistem AI yang mampu bekerja secara mandiri di lingkungan perusahaan, mulai dari otomatisasi proses bisnis hingga pengambilan keputusan digital. Namun, di tengah percepatan adopsi teknologi tersebut, kesiapan keamanan siber dinilai belum berkembang dengan kecepatan yang sama.

Co-Founder dan CEO Zentara, Regal Rauniyar Star, mengatakan AI kini mulai beroperasi dengan tingkat independensi yang belum pernah diantisipasi oleh pendekatan keamanan tradisional.

“AI kini mulai beroperasi dengan tingkat independensi yang belum pernah diantisipasi oleh pendekatan keamanan tradisional. Kondisi ini menciptakan kesenjangan antara cara sistem AI bekerja dengan kemampuan perusahaan dalam memantau serta mengelola risikonya,” ujar Regal dalam keterangan resmi, Selasa (13/5).

Menurut laporan tersebut, perusahaan di Indonesia mulai mengeksplorasi penggunaan AI otonom yang dapat menjalankan tindakan secara mandiri di dalam sistem digital perusahaan. Situasi ini memunculkan tantangan baru terkait pengawasan, kontrol, serta mitigasi risiko keamanan.

President Zentara, Darian Kuswanto, menilai fokus perusahaan kini perlu bergeser, bukan hanya pada kemampuan teknologi AI, tetapi juga pada tata kelola dan pengawasan penggunaannya.

“Membangun pemahaman mengenai tata kelola AI sejak dini akan menjadi langkah penting, tidak hanya untuk mengelola risiko, tetapi juga menjaga kepercayaan publik,” kata Darian.

Laporan itu juga menyoroti meningkatnya ancaman keamanan siber di tengah adopsi AI yang semakin luas di sektor keuangan, layanan pelanggan, hingga layanan publik. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia menghadapi berbagai insiden siber seperti anomali lalu lintas digital, upaya peretasan, dan kebocoran data yang berdampak pada institusi publik maupun swasta.

Para pakar keamanan siber turut mengamati meningkatnya penggunaan AI untuk mengotomatisasi serangan siber. Teknologi tersebut dinilai membuat pola serangan menjadi lebih cepat, lebih adaptif, dan semakin sulit dideteksi menggunakan sistem keamanan konvensional.

Selain aspek keamanan, perkembangan AI juga memunculkan tantangan tata kelola yang lebih luas. Diskusi mengenai penyalahgunaan AI, termasuk penyebaran konten menyesatkan atau berbahaya yang dihasilkan sistem AI, mendorong perhatian regulator dan publik terhadap pentingnya pengawasan yang lebih ketat.

Secara global, sejumlah insiden keamanan berbasis AI dan munculnya berbagai panduan keamanan baru dari lembaga industri menunjukkan bahwa risiko teknologi AI mulai dipandang serius. Namun, implementasi tata kelola dan keamanan AI di tingkat perusahaan disebut masih belum merata.

Di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara, laju adopsi AI dinilai terus melampaui perkembangan praktik tata kelola dan keamanan. Kondisi tersebut dalam laporan disebut sebagai “deployment gap” atau kesenjangan implementasi.

Sebagai langkah mitigasi, laporan Safe-Agent merekomendasikan sejumlah hal penting bagi perusahaan dan pembuat kebijakan. Di antaranya adalah mendefinisikan akses sistem secara jelas, meningkatkan pemantauan terhadap aktivitas berbasis AI, menetapkan batasan pada tindakan berisiko tinggi, serta memastikan adanya akuntabilitas dalam penggunaan sistem AI otonom.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Daerah
TNI Ajak OPM yang Masih di ...
Nasional
Kemenhub Siap Percepat Peng...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Saham SpaceX Meroket, Elon Musk Jadi Triliuner Pertama di Dunia

Saham SpaceX Meroket, Elon Musk Jadi Triliuner Pertama di Dunia

13 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.