Belajar dari Jepang, Makan Siang Sekolah Bergizi yang Sukses Cetak Generasi Unggul
📅 Selasa, 12 Mei 2026, 01:05 WIB | Oleh: Tim RedaksiHopson menilai keberhasilan kyushoku tidak hanya terletak pada pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga pada integrasi sistem pendidikan, logistik, dan kesehatan masyarakat yang berjalan disiplin serta berkelanjutan.
Program tersebut awalnya berfungsi sebagai intervensi gizi pascaperang pada 1947.
Namun, setelah kebutuhan dasar gizi dinilai tercukupi pada akhir 1950-an, fokus program berkembang ke aspek sosial seperti kebersihan, kerja sama, dan pembentukan karakter.
Aspek Gizi
Sebaiknya Anda baca juga:
Menanggapi studi itu, Wakil Rektor III Universitas Trunojoyo Madura (UT M), Surokim Abdussalam, menilai Indonesia perlu belajar dari Jepang agar program MBG tidak hanya jadi proyek distribusi makanan semata.
“Indonesia perlu melihat paradigma berbisnis dalam MBG adalah awal dari stagnasi dan self defeating dari misi membangun memberantas malnutrisi dan stunting anakanak masa depan bangsa.
Nutritional School Lunch semacam MBG bukanlah bisnis tapi program sekolah sehat dan cerdas,” kata Surokim kepada Koran Jakarta, Senin (11/5).
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menilai pemerintah perlu memperbaiki sistem logistik MBG agar lebih efisien dan mampu menjamin kualitas makanan.
Menurut dia, rantai distribusi yang terlalu panjang berpotensi meningkatkan biaya dan risiko makanan basi.
“Indonesia perlu sistem logistik yang bisa berkelanjutan dan semakin efisien dan efektif dengan sistem ‘From the Farm to the Table’ dengan mata rantai yang terpendek dan garis pertanggungan jawab yang tersedikit,” ujarnya.
Surokim juga menekankan pentingnya pengawasan dari sisi gizi, kebersihan, standardisasi pangan, hingga efektivitas biaya.
“Harus memperhatikan aspek gizi nutrisi, kesegaran, hygienist sterilisasi kebersihan, standardisasi baku dan cost yang efektif,” katanya.
Ia menambahkan program MBG sebaiknya lebih fokus kepada kelompok prioritas agar tidak membebani anggaran negara secara berlebihan dan tetap tepat sasaran.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!