Biaya Produksi Industri Semakin Meningkat
📅 Selasa, 05 Mei 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi“Kita melihat divergensi yang sangat jelas antara negara maju dan Asean. Amerika Serikat dan Jepang justru mengalami akselerasi manufaktur karena fenomena safety stock building, sementara Asean, termasuk Indonesia, mulai tertekan oleh inflasi biaya dan gangguan rantai pasok,” ujarnya.
Ia menyebut kenaikan biaya bahan baku akibat konflik geopolitik mendorong inflasi biaya produksi ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
“Ini adalah textbook case dari cost-push inflation. Ketika biaya naik terlalu cepat, produsen tidak punya pilihan selain mengurangi output atau meneruskan harga ke konsumen,” katanya.
Meski terdapat sedikit kenaikan pesanan baru, ia menilai hal tersebut belum mencerminkan pemulihan permintaan yang kuat.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kenaikan order lebih bersifat front-loading, bukan karena demand yang benar-benar kuat,” tambahnya.
Fakhrul juga menyoroti potensi tekanan lanjutan terhadap inflasi konsumen, meski inflasi April tercatat masih terkendali di 2,42 persen secara tahunan.
“Tekanan di level produsen sudah mulai naik signifikan, sehingga ada potensi pass-through ke inflasi konsumen dalam beberapa bulan ke depan,” ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menilai kondisi saat ini menuntut kebijakan yang lebih hati-hati karena sektor riil melemah di tengah tekanan harga yang meningkat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!