Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Hanya 20 Persen Lahan Beririgasi, Bandung Barat Perkuat Ketahanan Pangan Hadapi El Nino 2026

📅 Sabtu, 02 Mei 2026, 17:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Hanya 20 Persen Lahan Beririgasi, Bandung Barat Perkuat Ketahanan Pangan Hadapi El Nino 2026 Doc: Antara
Ket. Salah satu lahan pertanian palawija yang berada di kawasan Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Bandung Barat - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat, Jawa Barat menyiapkan strategi budi daya adaptif untuk menghadapi ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino 2026, seiring besarnya ketergantungan lahan pertanian terhadap curah hujan.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bandung Barat Lukmanul Hakim mengatakan penyesuaian teknis budi daya dilakukan dengan mengganti padi dengan palawija di wilayah rawan kekeringan.

“Pola tanam juga kami sesuaikan. Di wilayah rawan, petani dianjurkan mengganti padi dengan palawija yang lebih hemat air,” katanya dalam keterangannya di Bandung, Sabtu (2/5).

Ia menyebut bahwa ancaman terbesar dari dampak fenomena tersebut berasal dari dominasi lahan tadah hujan di Kabupaten Bandung Barat.

Ia menjelaskan hanya sekitar 20 persen dari total lahan baku sawah seluas 18.093 hektare yang memiliki sistem irigasi, sementara sisanya sangat bergantung pada curah hujan.

“Dari total lahan baku sawah seluas 18.093 hektare, hanya sekitar 20 persen yang memiliki sistem irigasi, sementara sisanya sangat bergantung pada curah hujan,” katanya.

Menurut dia, kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi daerah yang sejak 2014 telah mencapai swasembada pangan dan terus menyumbang produksi beras nasional.

Pada 2025, produksi padi Kabupaten Bandung Barat tercatat mencapai 274.221 ton atau setara 147.424 ton beras dan menjadi bagian dari kontribusi daerah terhadap pemenuhan kebutuhan pangan di tingkat regional.

Sebagai langkah adaptasi, pemerintah daerah mendorong penggunaan varietas tahan kering, seperti padi Inpago 8, jagung Bisi 18, dan cabai Dewata 43.

Selain itu, petani diarahkan menerapkan teknik hemat air, seperti penggunaan mulsa untuk menjaga kelembaban tanah serta pengaturan ulang jadwal tanam agar fase kritis tanaman tidak terjadi saat puncak kemarau.

Mitigasi juga diperkuat melalui pendampingan intensif oleh Penyuluh Pertanian Lapangan dan Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman, termasuk pemetaan wilayah rawan kekeringan serta sosialisasi prediksi cuaca dari BMKG.

“Sinergi antara petani, penyuluh dan pemerintah menjadi kunci. Dengan penyesuaian budi daya dan mitigasi yang tepat, kami optimistis produksi pangan tetap terjaga meski dihadapkan pada ancaman El Nino,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, pihaknya juga menjelaskan bahwa pemerintah daerah turut mendorong petani mengikuti program Asuransi Usaha Tani Padi untuk melindungi dari risiko gagal panen.

Pemerintah juga terus menggenjot program pompanisasi atau brigade pompa dengan sebanyak 393 unit pompa telah disebar sepanjang 2024 hingga 2025, dan ditargetkan bertambah 125 unit dari APBD dan APBN pada tahun 2026.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Megapolitan
Respons Pemprov Atas Aduan ...
Megapolitan
Urban Farming Hapus Citra B...
Update Klasemen Sementara Piala Dunia 2026: Kolombia dan Inggris Memimpin di Grup K dan L

Update Klasemen Sementara Piala Dunia 2026: Kolombia dan Inggris Memimpin di Grup K dan L

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.