IHSG Hari Ini Tersendat Saat Bursa Asia Kompak Menghijau di Awal Pekan
📅 Senin, 27 Apr 2026, 18:37 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah penguatan mayoritas bursa Asia pada awal pekan mencerminkan adanya tekanan domestik yang lebih dominan dibanding sentimen regional.
Saat pasar Asia merespons positif optimisme global—seperti ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter atau stabilnya data ekonomi—pergerakan IHSG justru tertahan oleh faktor internal, mulai dari aksi ambil untung investor setelah reli sebelumnya, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga kekhawatiran terhadap prospek ekonomi dalam negeri.
Kondisi ini menunjukkan bahwa korelasi IHSG dengan pasar regional tidak selalu linier. Dalam situasi tertentu, investor cenderung lebih sensitif terhadap risiko domestik, termasuk dinamika kebijakan, arus modal asing, dan kinerja sektor-sektor utama seperti perbankan dan komoditas.
Akibatnya, meskipun sentimen eksternal relatif kondusif, tekanan dari dalam negeri mampu membalik arah pergerakan indeks, menandakan perlunya katalis domestik yang lebih kuat untuk menjaga daya tahan pasar.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (27/4) sore, ditutup melemah 22,97 poin atau 0,32 persen ke level 7.106,52.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan turut turun ke posisi 686,74.
"Setelah mengalami tekanan jual pada akhir pekan lalu, IHSG sempat bergerak di teritori positif hampir di sepanjang perdagangan, namun kemudian IHSG melemah menjelang penutupan," kata Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim, dalam kajiannya di Jakarta.
Dari sisi sentimen domestik, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan akan mempertimbangkan pemberian insentif bagi pasar modal Indonesia, selama program yang dijalankan otoritas bursa menunjukkan hasil positif.
Sebaiknya Anda baca juga:
Insentif tersebut berpeluang berbentuk pengurangan pajak, sejalan dengan harapan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar ada dukungan stimulus fiskal.
Di sisi lain, data investasi asing langsung (FDI) ke Indonesia di luar sektor keuangan dan migas tercatat tumbuh 8,5 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp250 triliun pada kuartal I 2026.
Capaian ini menandai pertumbuhan selama dua kuartal berturut-turut, setelah sebelumnya meningkat 4,3 persen (yoy) pada kuartal IV 2025.
Arus masuk investasi terbesar berasal dari sektor industri logam dasar yang mencapai 3,7 miliar dolar AS.
Ratna melanjutkan dari kawasan regional, mayoritas indeks saham Asia ditutup menguat pada perdagangan Senin (27/4/2026).
Investor cenderung mengabaikan belum terjadinya perundingan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran, serta tetap tingginya harga minyak mentah global.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!