Biaya Tinggi, Tata Kelola Logistik Harus Dibenahi Menyeluruh
📅 Senin, 27 Apr 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim RedaksiSapto juga menyoroti bahwa pembangunan infrastruktur yang masif belum sepenuhnya menjawab persoalan utama, yakni integrasi sistem logistik. Menurutnya, masih banyak hambatan di level operasional seperti birokrasi distribusi, koordinasi antarlembaga, hingga biaya tambahan yang muncul di lapangan.
“Infrastruktur sudah ada, tapi sistemnya belum rapi. Ini yang bikin biaya tetap tinggi,” katanya.
Ia pun berharap peringatan Menteri Keuangan dapat diikuti dengan langkah konkret, seperti penyederhanaan regulasi, digitalisasi rantai distribusi, dan pembenahan tata kelola logistik secara menyeluruh.
“Kalau ini bisa dibenahi, industri furnitur kita punya peluang besar. Tapi kalau tidak, kita akan terus tertinggal di pasar global,” ujar Sapto.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebelumnya Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan daya saing Indonesia tidak hanya ditentukan oleh stabilitas makroekonomi, tetapi juga oleh efisiensi struktural, khususnya dalam sistem distribusi barang dan jasa. Ia menyebut bahwa biaya logistik Indonesia masih berada pada kisaran 23 persen dari PDB.
Angka tersebut jelas Menkeu bukan sekadar tinggi, tetapi mencerminkan inefisiensi serius yang menggerus daya saing nasional. Jika dibandingkan dengan negara lain, angka tersebut menunjukkan kesenjangan yang cukup lebar. Negara-negara maju seperti Jepang dan Korea Selatan mampu menjaga biaya logistik di bawah 10–12 persen dari PDB.
Beberapa negara berkembang di Asia Tenggara justru sudah lebih efisien. Dengan demikian, Indonesia menghadapi kondisi di mana hampir seperempat aktivitas ekonominya “terkunci” dalam biaya distribusi yang mahal dan tidak efisien
Sebaiknya Anda baca juga:
Hal itu berdampak langsung pada harga barang, daya beli masyarakat, hingga minat investasi. Masalah logistik paparnya tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan hasil akumulasi dari berbagai persoalan struktural, konektivitas antarmoda yang belum optimal, infrastruktur yang belum merata, sistem pelabuhan yang belum sepenuhnya efisien, hingga tata kelola yang masih terfragmentasi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!