Tekanan Ganda! IHSG Hari Ini Melemah Akibat Rupiah Lesu dan Harga Minyak Naik
📅 Kamis, 23 Apr 2026, 17:45 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Penutupan melemah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencerminkan respons pasar terhadap kombinasi tekanan eksternal dan domestik.
Pelemahan rupiah meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas makroekonomi, terutama karena berpotensi memperbesar beban impor dan menekan kinerja emiten yang bergantung pada bahan baku luar negeri.
Di saat yang sama, kenaikan harga minyak menambah risiko inflasi serta mempersempit margin perusahaan, khususnya di sektor transportasi dan manufaktur.
Kondisi ini mendorong pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko dan beralih ke instrumen yang lebih aman, seiring meningkatnya ketidakpastian global.
Tekanan ganda dari nilai tukar dan harga energi akhirnya memperlemah sentimen pasar, sehingga IHSG ditutup di zona merah dengan kecenderungan volatilitas yang masih tinggi dalam jangka pendek.
Sebaiknya Anda baca juga:
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (23/4) sore, ditutup melemah 163 poin atau 2,16 persen ke posisi 7.378,61 terbebani oleh pelemahan kurs rupiah dan kenaikan harga minyak mentah di tingkat global.
Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 20,09 poin atau 2,73 persen ke posisi 715,88.
"Sentimen negatif antara lain berasal dari pelemahan rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS dan ditutup pada level Rp17.286 per dolar AS di pasar spot. Ini menjadi level penutupan terburuk bagi rupiah sepanjang masa serta merupakan pelemahan paling dalam di Asia ," ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dari dalam negeri, pelemahan kurs rupiah yang relatif cepat, di luar estimasi pelaku pasar sebelumnya.
Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan BI-Rate tidak berubah untuk ketujuh kalinya secara berturut-turut memberikan dukungan yang terbatas, karena rupiah berulang kali menyentuh level terendah sepanjang masa pada bulan ini.
Tekanan semakin diperparah oleh ketergantungan Indonesia terhadap impor energi, meskipun telah terjadi kenaikan harga BBM nonsubsidi baru-baru ini.
Gubernur BI Perry Warjiyo memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak dapat memperlebar defisit transaksi berjalan menjadi 0,5-1,3 persen dari PDB, naik dari perkiraan sebelumnya sebesar 0,1-0,9 persen.
Sementara itu, data uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh 9,7 persen year on year (yoy) menjadi Rp10,355 triliun pada Maret 2026, atau berakselerasi dari pertumbuhan sebesar 8,7 persen (yoy) pada Februari 2026.
Kenaikan tersebut didorong oleh peningkatan uang beredar M1 sebesar 14,4 persen (yoy) dan uang kuasi sebesar 5,2 persen (yoy).
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!