Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

KAI Kembangkan Sistem Logistik Berbasis Rel di Dryport KEK Industropolis Batang, Lebih Efisien dan Murah

📅 Selasa, 21 Apr 2026, 14:05 WIB | Oleh:
KAI Kembangkan Sistem Logistik Berbasis Rel di Dryport KEK Industropolis Batang, Lebih Efisien dan Murah Doc: KAI
Ket. Penandatanganan Nota Kesepahaman pengembangan logistik berbasis rel di Dryport Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, Jawa Tengah, Selasa (21/4).

JAKARTA - PT Kereta Api Indonesia (Persero) bersama PT Kawasan Industri Terpadu Batang, PT Pelabuhan Indonesia (Persero), PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (Perseroda), dan Perumda Aneka Usaha Kabupaten Batang menandatangani Nota Kesepahaman untuk pengembangan logistik berbasis rel di Dryport Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, Selasa (21/4).

Kolaborasi ini diarahkan untuk membangun sistem logistik yang lebih terintegrasi, sekaligus menjawab tantangan biaya logistik nasional yang masih tinggi. Dengan pendekatan berbasis rel, distribusi barang diharapkan menjadi lebih efisien, terukur, dan kompetitif.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyampaikan bahwa pengembangan dryport di Batang menjadi bagian dari arah besar pembangunan ekosistem logistik nasional yang terintegrasi dari kawasan industri hingga ke pelabuhan.

“Di Batang ini akan tumbuh kawasan industri yang terhubung dengan kota mandiri. KAI hadir sebagai pengangkut dari dryport menuju pelabuhan, dan di ujungnya Pelindo memastikan konektivitas ke pasar global. Dengan integrasi ini, kita dorong biaya logistik turun dan lebih kompetitif,” ujar Bobby.

Ia menambahkan bahwa saat ini biaya logistik Indonesia masih berada di kisaran 15% hingga di atas 20% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sementara standar global berada di kisaran 7–8%. Kondisi ini menjadi ruang perbaikan yang besar bagi peningkatan daya saing industri nasional.

“Kalau kita bisa menurunkan biaya logistik secara signifikan, maka biaya produksi industri juga akan ikut turun. Dampaknya langsung terasa pada daya saing produk Indonesia di pasar global,” lanjut Bobby.

Upaya tersebut diperkuat dengan strategi peningkatan kapasitas angkutan. KAI saat ini mengoperasikan gerbong dengan kapasitas rata-rata 50 ton per gerbong, dan sedang ditingkatkan menjadi 70 ton. Dengan satu rangkaian hingga 60 gerbong, kapasitas angkut dapat mencapai 4.200 ton dalam satu perjalanan.

Selain itu, KAI juga menyiapkan pengembangan jalur langsung menuju pelabuhan untuk mengurangi hambatan operasional. Saat ini, distribusi menuju Pelabuhan Tanjung Priok masih memanfaatkan jalur eksisting dengan keterbatasan waktu operasional sekitar lima jam per hari. Dengan jalur langsung, distribusi barang akan menjadi lebih fleksibel dan efisien.

Di sisi lain, KAI juga melihat potensi besar di Jawa sebagai pusat pergerakan logistik nasional. Sekitar 60% aktivitas logistik Indonesia berada di Pulau Jawa, dengan nilai biaya logistik yang diperkirakan mencapai Rp2.400–2.500 triliun per tahun. Efisiensi 30% saja dapat menghasilkan penghematan hingga sekitar Rp1.000 triliun.

Pengembangan Dryport KEK Industropolis Batang juga diarahkan sebagai pusat konsolidasi logistik di Jawa Tengah. Berdasarkan kajian internal, pergerakan kontainer di wilayah ini mencapai sekitar 10 juta per tahun dan diproyeksikan terus meningkat seiring pertumbuhan kawasan industri.

“Dryport ini kami dorong menjadi agregator logistik, selain melayani kawasan Batang juga melayani wilayah Jawa Tengah secara luas. Dengan jaringan lebih dari 600 stasiun yang dimiliki KAI di Pulau Jawa, potensi distribusi berbasis rel sangat besar,” jelas Bobby.

Langkah ini diperkuat oleh kinerja angkutan barang KAI yang terus menunjukkan tren positif. Sepanjang Triwulan I 2026, KAI melayani angkutan barang sebesar 14.948.442 ton, mencerminkan peran strategis kereta api dalam mendukung distribusi nasional.

Pada periode yang sama, angkutan peti kemas mencapai 1.371.036 ton, meningkat dari 1.196.600 ton pada Triwulan I 2025. Pertumbuhan ini menunjukkan pergeseran penggunaan moda transportasi ke arah berbasis rel yang lebih efisien.

Dari sisi operasional, kinerja ketepatan waktu juga mengalami perbaikan. Ketepatan waktu keberangkatan angkutan barang tercatat 95,97% dan kedatangan 91,77%, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang masing-masing sebesar 95,89% dan 87,04%.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Pilpres Kolombia Diinterven...
Luar Negeri
PBB Mendesak Transpransi Je...
Luar Negeri
WHO Serukan Negara-Negara C...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Pemprov Jabar Tolak Status Darurat Sampah, Pemkot Bandung Siapkan Opsi Alternatif Ini

Pemprov Jabar Tolak Status Darurat Sampah, Pemkot Bandung Siapkan Opsi Alternatif Ini

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.