Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Dari Limbah Jadi Manfaat, Petani Sawit Desa Labangka Belajar Olah TKKS

📅 Minggu, 19 Apr 2026, 21:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Dari Limbah Jadi Manfaat, Petani Sawit Desa Labangka Belajar Olah TKKS Doc: ANTARA/ Nyaman Bagus Purwaniawan
Ket. Selain pertanian tanaman padi, di wilayah Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, juga terdapat kebun kelapa sawit milik masyarakat.

PENAJAM PASER UTARA – Mengelola limbah kebun itu sekarang tak bisa lagi asal-asalan. Dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang paham cara kelola yang lebih modern dan ramah lingkungan.

Soalnya, kalau diolah dengan benar, limbah ini justru bisa jadi nilai tambah, misalnya jadi pupuk organik atau sumber energi alternatif.

Namun masalahnya, masih banyak yang belum punya pengetahuan dan keterampilan yang cukup, jadi potensi itu belum maksimal.

Makanya, peningkatan kualitas SDM penting banget, biar limbah nggak cuma jadi beban, tapi bisa diubah jadi peluang yang menguntungkan.

Pemerintah Desa Labangka, Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur, bersama Universitas Balikpapan (Uniba) mengajak petani kelapa sawit di desa itu mengolah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) menjadi pupuk organik.

"Pendampingan dari perguruan tinggi dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di desa," ujar Kepala Desa Labangka Nasrudin ketika ditanya mengenai kerja sama dengan Uniba di Penajam, Minggu (19/4).

"Warga memberikan apresiasi terhadap peran aktif Uniba, karena memberikan solusi konkret bagi petani dalam mengelola limbah kebun," tambahnya.

Keterampilan baru yang didapatkan petani kelapa sawit Desa Labangka tersebut diharapkan mampu memangkas biaya perawatan kebun, juga meningkatkan hasil panen berkelanjutan.

Program kerja sama yang dijalin, kata Nasrudin, bisa diproyeksikan menjadi model percontohan bagi desa lainnya di wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara.

"Pengolahan pupuk organik memperbaiki kesuburan struktur tanah yang sering rusak akibat penggunaan bahan kimia jangka panjang," jelas Wakil Rektor III Uniba Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Merry Krisdawati Sipahutar.

Potensi besar TKKS selama ini terabaikan, timpal dia lagi, sekitar 20 hingga 23 persen dari setiap satu ton tandan buah segar merupakan limbah yang bisa diolah kembali.

Apabila kebun menghasilkan ratusan ton kelapa sawit, maka puluhan ton limbah organik siap diolah setiap hari, tetapi tanpa penanganan yang tepat limbah berisiko mencemari lingkungan.

Jika limbah ditangani dengan tepat juga bisa menjadi peluang ekonomi baru, dan

penggunaan pupuk organik mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang semakin mahal, demikian Merry Krisdawati Sipahutar.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
Advertisement
jjroyal-luwak
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Hasil Liga Champions: PSG Kokoh di Puncak Klasemen Usai Hancurkan Barcelona 4-2

Hasil Liga Champions: PSG Kokoh di Puncak Klasemen Usai Hancurkan Barcelona 4-2

21 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.