Lawan Penuaan Organ Melalui Metode Pemrograman Ulang Sel
📅 Kamis, 16 Apr 2026, 07:24 WIB | Oleh: Haryo BronoSejak saat itu, berbagai eksperimen dilakukan. Para ilmuwan berhasil meremajakan sel kulit, meningkatkan regenerasi otot, memperbaiki jaringan jantung, hingga meningkatkan fungsi memori pada tikus.
Meski hasilnya menjanjikan, tantangan utama tetap pada aspek keamanan. “Meninggalkan sel dengan potensi yang tidak sepenuhnya dipahami di dalam tubuh adalah risiko besar,” ujar Daniel Ives.
Pendekatan Baru dan Uji Klinis Manusia
Untuk mengurangi risiko, sejumlah peneliti menghilangkan salah satu faktor Yamanaka, yakni c-Myc, yang diketahui berkaitan dengan kanker. Dalam eksperimen lanjutan, tiga faktor yang tersisa digunakan pada tikus dan menunjukkan hasil positif tanpa pembentukan tumor.
Sebaiknya Anda baca juga:
Penelitian ini turut melibatkan ilmuwan seperti Noah Davidsohn dan Vittorio Sebastiano, yang menyatakan bahwa pendekatan ini relatif aman pada model hewan, meski masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Minat terhadap teknologi ini juga meningkat di kalangan investor. Pada 2022, perusahaan bioteknologi Altos Labs didirikan dengan pendanaan mencapai 3 miliar dollar AS, menjadikannya salah satu startup bioteknologi dengan investasi terbesar.
Sejumlah tokoh teknologi seperti Sam Altman dan Brian Armstrong juga turut berinvestasi dalam perusahaan yang mengembangkan teknologi serupa. Saat ini, perusahaan Life Biosciences diperkirakan akan menjadi yang pertama menguji pemrograman ulang parsial pada manusia. Perusahaan ini bekerja sama dengan David Sinclair untuk mengembangkan terapi yang menargetkan kerusakan saraf retina akibat glaukoma.
Sebaiknya Anda baca juga:
Uji klinis akan dilakukan secara bertahap dengan melibatkan sejumlah kecil pasien. Teknologi ini menggunakan virus untuk mengantarkan gen ke dalam sel, dengan mekanisme kontrol berbasis antibiotik untuk mengaktifkan gen tersebut secara terbatas.
Menurut Sharon Rosenzweig-Lipson, studi pada primata tidak menunjukkan efek samping serius seperti kanker. Meski demikian, peserta uji klinis akan dipantau dalam jangka panjang hingga lima tahun.
Dengan berbagai potensi dan risiko yang menyertainya, uji klinis ini menjadi langkah awal dalam menjawab pertanyaan besar dalam ilmu biologi: apakah penuaan dapat dibalikkan secara aman—atau setidaknya diperlambat secara signifikan.
Jawaban atas pertanyaan tersebut berpotensi mengubah masa depan dunia medis, sekaligus cara manusia memandang proses penuaan itu sendiri. hay
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!