Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Lawan Penuaan Organ Melalui Metode Pemrograman Ulang Sel

📅 Kamis, 16 Apr 2026, 07:24 WIB | Oleh:
Lawan Penuaan Organ Melalui Metode Pemrograman Ulang Sel Doc: Sumber: Remesal dkk., Nature Aging
Ket. Neuron buatan yang ditumbuhkan dalam cawan petri akan menumbuhkan kawat bercabang, atau neurit, dengan beberapa "lengan". Ketika neuron yang sama ini direkayasa untuk menghasilkan banyak protein FTL1, neuritnya menjadi jauh lebih sederhana, jarang bercabang.

SAAT ini metode untuk membalikkan penuaan sel memasuki babak baru dengan rencana uji klinis pada manusia. Bidang yang tengah berkembang pesat ini untuk pertama kalinya akan menguji apakah memperlambat perkembangan sel dapat secara aman menyegarkan kembali jaringan dan organ yang menua, sekaligus membuka kemungkinan baru dalam dunia kedokteran regeneratif.

Momen penting dalam perjalanan riset ini pernah dialami oleh Yuancheng Ryan Lu, yang nyaris menahan napas saat menunggu rekan laboratoriumnya menyesuaikan fokus mikroskop. Di hadapan mereka, terdapat hasil eksperimen terbaru yang bertujuan membalikkan waktu biologis pada sel saraf retina yang telah menua.

Jika metode tersebut berhasil, pendekatan yang dikembangkan berpotensi membantu memulihkan penglihatan pada penderita glaukoma, kondisi terkait usia yang merusak saraf optik. Bahkan dalam jangka panjang, teknologi ini diperkirakan dapat digunakan untuk meremajakan organ lain seperti ginjal, hati, hingga otak.

Selama tiga tahun, Lu mencoba berbagai pendekatan dan mengalami kegagalan. Namun, percobaan terakhir menunjukkan hasil berbeda. Ia memasukkan tiga gen ke dalam mata tikus dengan tujuan mengembalikan sel ke kondisi perkembangan yang lebih muda. Di bawah mikroskop, ia melihat indikasi pertumbuhan baru dan meminta rekan timnya untuk mengonfirmasi temuan tersebut.

“Saya sangat gugup,” ujar Lu, yang kini berkarier sebagai ahli genetika di Whitehead Institute, Cambridge, Massachusetts.

Ketika hasil tersebut dipastikan, suasana laboratorium berubah menjadi penuh kegembiraan. Namun, di balik perayaan itu, tersimpan kekhawatiran bahwa keberhasilan awal tersebut belum tentu bertahan dalam tahap penelitian berikutnya.

Lu merupakan bagian dari kelompok peneliti yang mengembangkan konsep “pemrograman ulang parsial” sel, yakni upaya mengembalikan sel ke kondisi lebih muda tanpa menghilangkan identitas fungsionalnya. Tujuh tahun setelah penemuan awalnya, pendekatan ini kini menjadi dasar uji klinis pertama yang akan segera dimulai.

Uji coba ini dipandang sebagai tonggak penting dalam bidang bioteknologi, yang telah menarik perhatian luas dari kalangan akademisi, industri, hingga investor teknologi global. Pertanyaan utama yang hendak dijawab adalah apakah sel-sel tua dapat diremajakan kembali secara aman.

Sejumlah peneliti menilai keberhasilan teknologi ini berpotensi mengubah cara manusia memahami penuaan. Selain membuka peluang peremajaan organ, dalam skenario paling ambisius, pendekatan ini bahkan dinilai dapat diterapkan pada seluruh tubuh manusia.

Namun demikian, risiko yang menyertai teknologi ini tidak kecil. Mendorong sel terlalu jauh menuju kondisi seperti sel punca dapat menyebabkan hilangnya fungsi normal, bahkan memicu kanker. “Ketika sel kehilangan identitasnya, itu selalu disertai risiko tertentu,” ujar Tamir Chandra dari Mayo Clinic.

Dari Faktor Yamanaka ke Reprogramming Parsial

Landasan teknologi ini berasal dari penemuan Shinya Yamanaka pada 2006. Ia menemukan bahwa empat protein dikenal sebagai faktor Yamanaka dapat mengubah sel dewasa menjadi sel punca pluripoten terinduksi (iPS), yang mampu berkembang menjadi berbagai jenis sel.

Penemuan ini membuka jalan bagi terapi berbasis sel punca, termasuk untuk penyakit seperti gagal jantung dan Parkinson. Namun, sejumlah ilmuwan kemudian mengembangkan pendekatan baru: mengaktifkan faktor tersebut hanya sementara, sehingga sel menjadi lebih muda tanpa kehilangan identitasnya.

Gagasan ini sempat dianggap kontroversial. Namun pada 2016, penelitian oleh Juan Carlos Izpisúa Belmonte di Salk Institute for Biological Studies menunjukkan bahwa aktivasi faktor Yamanaka secara siklik pada tikus dapat memperpanjang umur dan meningkatkan regenerasi jaringan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
KPK Dalami Peran Fuad Hasan...
Olahraga
Berapa Ranking FIFA Indones...
Nasional
Pertamina Pastikan Pasokan ...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Berapa Ranking FIFA Indonesia Jika Menang Melawan Mozambik?

Berapa Ranking FIFA Indonesia Jika Menang Melawan Mozambik?

09 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 5
# 5
Ratifikasi IEU-CEPA Dorong Daya Saing
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.