BMKG Sebut Kemarau 2026 Berisiko Ganggu Pangan Nasional
📅 Rabu, 15 Apr 2026, 22:15 WIB | Oleh: Ilham SudrajatJAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 berpotensi memicu kekeringan luas pada sektor pangan nasional. Demikian disampaikan oleh Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Radjab.
"Risiko utama meliputi penurunan produksi padi, gagal tanam. Serta ancaman terhadap lumbung pangan nasional," ujar dia, Rabu (15/4).
Ia menjelaskan, potensi kekeringan luas dipicu oleh durasi musim kemarau yang lebih panjang dari kondisi normal. BMKG memperkirakan kondisi ini akan terjadi di sekitar 57,2 persen wilayah Indonesia, berdasarkan perbandingan data klimatologis jangka panjang.
Selain itu, BMKG mencatat sekitar 56 persen zona musim mengalami awal kemarau yang lebih cepat dibandingkan rata-rata normal. Percepatan tersebut terjadi di berbagai wilayah dengan karakteristik musim yang berbeda.
"BMKG membuat prediksi musim kemarau 2026, salah satu aspek yang kami sampaikan adalah kapan mulai datang musim kemarau. Dan berapa lama atau durasi musim kemarau ini," ucap dia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain sektor pertanian, dampak lain yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan. Pemerintah mulai menyiapkan langkah mitigasi guna menekan risiko kerugian akibat kekeringan panjang tersebut.
Sementara itu, Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat memperkuat langkah antisipasi menghadapi potensi musim kemarau 2026. Upaya ini difokuskan pada penguatan ketersediaan air dan dukungan benih guna menjaga produksi padi tetap optimal.
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, mengatakan bahwa pemerintah telah menyiapkan langkah antisipatif untuk menghadapi musim kemarau. Khususnya melalui penguatan irigasi dan pompanisasi guna menjaga ketersediaan air bagi pertanian.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Air adalah faktor kunci, karena itu, penguatan irigasi, pompanisasi, dan dukungan benih harus berjalan bersamaan. Agar petani tetap bisa berproduksi secara optimal," kata dia. ils/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!