Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Sering Diabaikan, Ternyata 4 Hal Sederhana Ini Penentu Tinggi Badan Anak di Masa Depan

📅 Selasa, 14 Apr 2026, 17:10 WIB | Oleh:
Sering Diabaikan, Ternyata 4 Hal Sederhana Ini Penentu Tinggi Badan Anak di Masa Depan Doc: ANTARA/Makna Zaezar
Ket. Ilustrasi - Kader posyandu mengukur tinggi badan anak balita saat layanan pemeriksaan kesehatan gratis di Posyandu Dahlia, Semarang, Jawa Tengah, Senin (15/12).

JAKARTA - Persepsi masyarakat yang menganggap tinggi badan anak sepenuhnya bergantung pada faktor genetik orang tua mulai bergeser.

Pakar endokrinologi anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. dr. Jose R.L. Batubara, menekankan bahwa potensi tinggi badan optimal seorang anak justru lebih banyak dipengaruhi oleh interaksi antara asupan nutrisi, aktivitas fisik, serta kualitas tidur yang mendalam (deep sleep).

“Bukan berarti kalau bapak ibunya pendek, anaknya akan pendek. Banyak faktor lain seperti makanan, kesehatan, vaksinasi, dan lingkungan,” kata Jose dalam webinar “Mengenal dan Memahami Kurva Pertumbuhan pada Anak” yang dipantau di Jakarta, Selasa.

Ia menekankan pentingnya kecukupan nutrisi sebagai fondasi pertumbuhan. Anak membutuhkan asupan kalori yang cukup, protein terutama dari sumber hewani, serta kalsium dan vitamin D untuk mendukung pembentukan tulang.

Menurut dia, susu menjadi salah satu sumber utama kalsium yang penting bagi pertumbuhan tinggi badan anak. Kemudian, vitamin D berperan membantu penyerapan kalsium dalam tubuh.

Selain nutrisi, faktor tidur juga berperan besar, di mana hormon pertumbuhan diproduksi optimal saat anak berada dalam fase tidur nyenyak.

“Anak butuh tidur minimal delapan jam. Saat deep sleep, hormon pertumbuhan keluar maksimal,” katanya.

Ia menambahkan, aktivitas fisik yang rutin juga dapat merangsang produksi hormon pertumbuhan. Olahraga seperti berenang, berlari, atau permainan aktif lainnya dianjurkan untuk mendukung tumbuh kembang anak.

Dalam paparannya, Jose mengingatkan agar orang tua tidak hanya fokus pada berat badan, tetapi juga memperhatikan keseimbangan antara berat dan tinggi badan melalui indeks massa tubuh.

Ia mengungkapkan bahwa kelebihan konsumsi karbohidrat tanpa diimbangi protein dapat menyebabkan obesitas tanpa mendukung pertumbuhan tinggi badan secara optimal.

“Kalau kalorinya kebanyakan dari karbohidrat, anak bisa gemuk tapi tidak bertambah tinggi,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa tinggi badan akhir anak dapat diprediksi berdasarkan tinggi orang tua melalui perhitungan tertentu, meski hasilnya tetap dapat dipengaruhi faktor lain selama masa pertumbuhan.

Oleh karena itu, IDAI mendorong orang tua untuk lebih aktif memantau pertumbuhan anak secara berkala dan menerapkan pola hidup sehat agar anak dapat mencapai potensi tinggi badan optimalnya.

"Anak bisa tumbuh normal, memiliki keseimbangan emosional, hormon, dan genetik. Orang tua berperan untuk itu. Alat yang akurat untuk melihat pertumbuhan ini adalah kurva pertumbuhan tentunya," kata Jose. 

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
UMKM Didorong Tembus Rantai...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.