Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

KADIN Institute: Ini Alasan MBG Bisa Transformasi Ekonomi Nasional

📅 Sabtu, 11 Apr 2026, 08:08 WIB | Oleh:
KADIN Institute: Ini Alasan MBG Bisa Transformasi Ekonomi Nasional Doc: Antara Foto
Ket. Makanan Bergizi Gratis (MBG) prasmanan yang disajikan SPPG Firdaus I Simpang Pasarodi, Desa Firdaus, Kecamatan Tanjung Beringin, Sergai di SDN 107967 Pelintahan disambut antusias siswa.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar kebijakan sosial bagi-bagi makanan. Di mata Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, ini adalah mesin pertumbuhan ekonomi baru yang sedang mengubah lanskap bisnis di daerah.

Executive Director Kadin Indonesia Institute, Mulya Amri, menegaskan bahwa MBG sudah memberikan efek positif bagi perekonomian di sektor riil saat ini. "Dulu sebelum program MBG dimulai, stok ayam dan telur kita berlebih. Sekarang justru kekurangan, hingga harga telur jadi lebih mahal. Kita sedang memacu produksi lebih banyak lagi," jelasnya.

Menurutnya ini adalah kesempatan bagi para peternak ayam dan petani sayur di daerah, karena program ini adalah berkah ekonomi yang nyata bagi mereka. Oleh karena itu, Mulya mengirimkan pesan kuat kepada para pengusaha daerah untuk bertransformasi.

Benedictus Dalupe, Peternak Ayam Petelur, Kadi Pada, Kota Tambolaka, Sumba Barat Daya, adalah salah satu wajah pengusaha lokal yang memulai usahanya saat program MBG berjalan menjadi saksi bagaimana perekonomian di daerah bertransformasi sejak adanya MBG.

“Kami adalah salah satu supplier bahan baku telur untuk SPPG atau dapur MBG di kecamatan Kota Tambolaka, Sumba Barat Daya. Kami saat ini baru tahap pengembangan jadi baru mampu menyuplai secara regular satu dapur. Selama ini kami menyuplai sekitar 20-25 ikat telur, kisarannya sekitar 3000 butir lebih. Seminggu kami mengirim sekitar tiga kali secara regular. Biasanya di hari Minggu, Selasa, dan Kamis. Saat ini kemampuan regular kami memang baru bisa suplai satu SPPG, ada SPPG lain yang meminta tapi karena keterbatasan stok kami memprioritaskan satu SPPG saja,” terang Benedictus.

Secara faktual, Benedictus menerangkan bahwa 95% kebutuhan telur diSumba Barat Daya, baik untuk konsumsi rumah tangga, industri, maupun ritel itu masih dipenuhi peternak dari Pulau Jawa. Setelah adanya MBG mulai muncul minat pengusaha atau peternak lokal di Sumba Barat Daya untuk mengembangkan peternakan ayam petelur.

Hal tersebut sejalan dengan keterangan dan ajakan Mulya yang medorong pengusaha lokal untuk memanfaatkan kesempatan ini. "Ayo pengusaha daerah, lakukan pivot. Jika dulu fokus di konstruksi, sekarang ambil kesempatan di industri makanan, kesehatan, dan pertanian," seru Mulya.

Mulya juga mengklarifikasi bahwa dana APBN yang dialokasikan untuk program MBG mayoritas untuk operasional makanan dan relawan, bukan untuk pembangunan infrastruktur dapur. Di sinilah peran pengusaha masuk.

"Kalau membangun dapur harus pakai dana pemerintah semua, itu pasti tekor. Modal satu dapur itu bisa Rp1,5 miliar hingga Rp3 miliar. Jadi, pengusaha yang membangun dapurnya, merekrut orangnya, dan mengelola jaringan ke penghasil makanan," ungkapnya.

Saat ini, dari target sekitar 30.000 dapur pemerintah, sekitar 20.000 unit sudah terbangun dan beroperasi. Mulya mendorong pengusaha di daerah yang belum bergabung untuk segera mengambil peluang di sepertiga sisa target tersebut, terutama di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal).

Persepsi Publik Terhadap Program MBG

Mulya menyadari adanya pandangan miring, terutama dari kalangan kelas menengah yang menganggap program ini tidak perlu dicampuri pemerintah. Namun, ia menekankan adanya perbedaan realita di lapangan.

"Banyak kesalahan persepsi kita sebagai kelas menengah. Kita berasumsi anak-anak ini sudah makan. Kenyataannya, banyak yang tidak dikasih makan," ujar Mulya.

Beberapa studi memperkuat pernyataan Mulya tersebut. LabSosio-LPPSP FISIP UImisalnya, yang melakukan penelitian terkait program MBG, menjelaskan bahwa para orang tua siswa yang disurvei umumnya memberikan penilaian yang sangat positif terhadap program ini. Kehadiran MBG dinilai sangat membantu meringankan beban ekonomi keluarga dan menghemat uang jajan anak. Bagi orang tua yang sibuk bekerja di pagi hari, program ini menjadi solusi praktis yang memastikan anak-anak mereka tidak kelaparan dan tetap mendapatkan akses makanan bergizi di sekolah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Daerah
Produk UMKM Dipromosikan Le...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.