RI harus Tawarkan Imbal Hasil Kompetitif agar Dana Asing Tidak Deras Keluar
📅 Kamis, 09 Apr 2026, 00:05 WIB | Oleh: Tim RedaksiJAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan bahwa ruang penurunan suku bunga acuan atau BI-Rate ke depan kemungkinan semakin tertutup di tengah ketidakpastian global akibat perang di Timur Tengah.
“Meskipun BI-Rate kami pertahankan 4,75 persen, tampaknya ke depan untuk ruang penurunannya kemungkinan semakin lama semakin tertutup dan kami juga harus menyikapi untuk stabilitas,” kata Perry dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI di Jakarta, Rabu (8/4).
Dia menambahkan bahwa bank sentral juga mulai memperkuat lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sejak awal tahun untuk menyeimbangkan antara keperluan menstabilkan nilai tukar rupiah, intervensi, serta menahan agar outflow tidak terlalu besar.
“SRBI yang tahun lalu kami mampu turunkan secara cepat, ini memang harus kita lakukan rekalibrasi supaya memang menarik inflow,” kata Perry.
Ia pun memastikan langkah itu tetap disertai dengan upaya menjaga kecukupan likuiditas perbankan. Dalam hal ini, uang primer (M0) tetap dijaga tumbuh pada level double digit, yakni sekitar 13,3 persen per Februari 2026.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain itu, BI juga terus melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dari pasar sekunder. Hingga saat ini, realisasi pembelian secara year to date telah mencapai 90,05 triliun rupiah.
“Inilah beberapa rekalibrasi di mana kebijakan moneter memang bobotnya sekarang lebih banyak untuk pro-stability,” kata Perry.
Prospek perekonomian global jelasnya semakin memburuk, terutama dipicu oleh konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran. Kondisi tersebut berdampak terhadap ekonomi dan keuangan global melalui jalur komoditas, perdagangan, dan finansial.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada jalur komoditas, terjadi kenaikan harga, khususnya minyak. Di jalur perdagangan, terjadi gangguan rantai pasok (supply chain). Sementara pada jalur finansial, ketidakpastian pasar keuangan global juga meningkat.
Perry mencatat, harga minyak dunia bahkan melonjak sejak Februari hingga Maret yang sempat mencapai 122,95 dollar AS per barel dan masih berfluktuasi. Selain itu, harga emas juga meningkat sepanjang 2025 dan tetap berada pada level tinggi.
Dampak ketidakpastian global juga terlihat dari meningkatnya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury), baik tenor 2 tahun maupun 10 tahun.
Jika pada tahun lalu yield cenderung menurun, namun kini US Treasury tenor 2 tahun maupun 10 tahun meningkat cukup tajam sejak memanasnya konflik di Timur Tengah. Kenaikan itu dipengaruhi oleh pelebaran defisit fiskal AS, termasuk untuk pembiayaan perang.
Kondisi tersebut berimplikasi pada Indonesia, baik melalui tekanan fiskal akibat kenaikan harga minyak dunia maupun melalui pasar keuangan. Dia mencatat, aliran portofolio ke emerging markets pada tahun lalu bergerak volatile dengan tren meningkat. Namun sejak awal tahun, kondisi berbalik mengalami outflow yang cukup besar, baik pada instrumen obligasi, saham, maupun lainnya.
Selain itu, terjadi pula penguatan dollar AS yang semakin menambah tekanan terhadap pasar keuangan global.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!