Strategi Hemat Air Jadi Andalan, Lumajang Siaga Hadapi Kemarau Panjang
📅 Rabu, 08 Apr 2026, 13:50 WIB | Oleh: Tim PenulisLUMAJANG – Penerapan pertanian berbasis efisiensi air menjadi semakin relevan di tengah ancaman El Niño yang identik dengan penurunan curah hujan dan meningkatnya risiko kekeringan.
Pendekatan ini tidak hanya soal menghemat air, tetapi juga mengoptimalkan setiap tetes melalui teknologi seperti irigasi tetes, pengelolaan kelembapan tanah, hingga pemilihan varietas tanaman yang lebih tahan kering. Dengan demikian, produktivitas tetap bisa dijaga meski tekanan iklim meningkat.
Secara analitis, strategi ini mencerminkan pergeseran dari pola pertanian konvensional yang cenderung boros air menuju sistem yang lebih adaptif dan berbasis data.
Efisiensi air juga berkontribusi pada stabilitas produksi pangan, terutama di wilayah yang sangat bergantung pada musim hujan. Namun, tantangannya terletak pada biaya adopsi teknologi, kesiapan petani, serta dukungan kebijakan yang belum merata.
Dalam jangka panjang, pertanian hemat air bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Tanpa transformasi ini, El Niño berpotensi terus menjadi siklus gangguan yang menekan produksi dan memperbesar risiko ketahanan pangan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Wakil Bupati Lumajang Yudha Adji Kusuma mengatakan pertanian berbasis efisiensi air menjadi strategi Kabupaten Lumajang untuk menghadapi kemarau tahun 2026.
"Pertanian harus bergerak menuju sistem yang adaptif dan efisien, mulai dari penyesuaian pola tanam, pemilihan varietas tahan kekeringan, hingga optimalisasi penggunaan air," kata Yudha dalam keterangannya di Lumajang, Rabu.
Menurut diaperlindungan sektor pertanian dan penguatan tata kelola lingkungan menjadi pilar utama dalam strategi adaptasi menghadapi potensi musim kemarau tahun 2026, sehingga langkah itu dinilai krusial untuk menjaga stabilitas pangan sekaligus memastikan keberlanjutan ekosistem di tengah tekanan perubahan iklim.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Sektor pertanian tidak hanya berperan sebagai penyokong ekonomi masyarakat, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam menjaga ketahanan pangan daerah. Oleh karena itu, pendekatan adaptasi tidak lagi bersifat konvensional, melainkan harus berbasis risiko, data iklim, dan inovasi," tuturnya.
Mengacu pada prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) periode kemarau diperkirakan berlangsung pada pertengahan hingga akhir tahun 2026, dengan potensi peningkatan intensitas kekeringan di sejumlah wilayah.
"Kondisi itu menjadi dasar bagi Pemerintah Kabupaten Lumajang untuk memperkuat strategi mitigasi yang lebih terarah dan terukur," katanya.
Upaya yang dilakukan tidak hanya terbatas pada optimalisasi jaringan irigasi, tetapi juga mencakup modernisasi sistem pertanian melalui pemanfaatan teknologi, seperti irigasi hemat air dan pengelolaan lahan berbasis efisiensi. Dengan pendekatan ini, produktivitas pertanian diharapkan tetap terjaga meskipun menghadapi keterbatasan sumber daya air.
Di sisi lain, pengelolaan lingkungan diperkuat sebagai bagian integral dari strategi adaptasi. Pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi degradasi lahan, kebakaran hutan, serta penurunan kualitas ekosistem yang dapat memperburuk dampak kemarau.
"Pendekatan ini dilakukan melalui koordinasi lintas sektor serta penguatan peran masyarakat dalam menjaga lingkungan secara berkelanjutan," katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!